The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #11

10. What A Shitty Life

"Kenapa si bos?" bisik Mimi ke telinga Ana. Mereka saling sikut menyaksikan Ares bekerja tiada henti mengulen roti dari nol. Bayangkan menguleni adonan roti dua kilogram hanya dengan tangan. Dan Ares menyia-nyiakan kemampuan mikser heavy duty-nya yang teronggok di sudut dapur.

"Gue nggak tahu. Datang terlambat, muka cemberut, langsung ambil bahan trus ngadon tanpa bicara sejak sejam yang lalu," sahut Ana pelan dan juga berbisik. Dia sendiri sudah merasakan aura dingin ketika Ares menginjakkan kaki di dapur. Ana tahu kapan bercanda dengan bosnya. Tetapi untuk kali ini, lebih baik Ana menjaga mulut dan gajinya daripada dipotong secara semena-mena sama bos yang sedang galak.

Di saat yang sama, kepala Ares ribut dengan sejuta pertanyaan yang tak henti-hentinya berputar dan berputar di kepala.

Sial, sial, sial. Hidupku nggak ada yang beres. Kenapa aku harus pergi ke Butterfly? Kenapa harus minum mojito dari Tobias? Kenapa aku tidak bisa menolak permintaan Mama untuk menikahi gadis itu? Demi Tuhan. Karenina juga meninggalkanku. Apa yang salah dengan hidupku? 

Bantingan adonan roti berkali-kali membuat karyawannya berjengit kaget. Setiap bantingan mengakibatkan usia karyawannya berkurang beberapa tahun.

"San, pesanan egg tart sudah selesai?"

"Sudah, Mas. Tinggal packing."

"Good. Ana, berapa kue lagi yang butuh kamu hias?"

"Dua lagi, Mas."

"Mimi!" Mimi kaget setengah mati. Duh, salah gue apa? Kok ngebentak gitu? 

"Kenapa malah berdiri di dapur? Kembali ke kasir." Tak perlu menjawab. Mimi langsung lari, menjauh dari sumber bencana.

"BOB! BOBY!" teriak Ares. 

Datanglah Boby tergopoh-gopoh ke dapur dan berdiri tak jauh dari Ares. "Ada apa, Mas?"

"Cek persediaan di dapur. Kalau ada yang kurang, telepon Madam. Jemput ke sana."

"Siap, Mas."

Boby langsung menghilang ke ruangan khusus persediaan bahan kue. Belum lima menit, si asisten kembali masuk ke dapur dalam keadaan panik. Boby tidak pernah terusik dengan teriakan Ares, tapi kali ini dia tidak repot-repot memperlihatkan wajah paniknya.

"Mas Ares. Gawat."

Tak hanya Ares, karyawan lain ikut menghentikan kegiatannya demi menyimak Boby.

"Ada apa?"

"Gawat, Mas." Jawaban asistennya membuat Ares menggeram rendah.

"Kalau bicara yang jelas!" bentak Ares. Dia terpaksa meninggalkan adonannya yang setengah kalis.

"Bahan persediaan banyak yang rusak, Mas. Karung tepung kayak ... digigit tikus. Terus ada koloni kecoak."

Tubuhnya bergidik. Ares tidak pernah suka dengan kecoak.

Ingin Ares berteriak sekencang-kencangnya atas kesialan hari ini, tapi apa daya. Tiba-tiba tubuhnya kehilangan tenaga hanya untuk marah pada hewan pengerat tak berdosa itu. Demi Tuhan, tikus dan kecoa itu hanya ingin makan, seperti dirinya yang bekerja untuk makan dan memberi makan karyawannya. Tapi kalau sampai BPOM tahu ada tikus dan kecoak berkeliaran di toko roti miliknya, The Leisure Treasure Bakery akan tinggal nama dan karirnya berakhir sebelum skandal pernikahannya terkuak ke media massa.

"Mas Ares, gimana ini, Mas? Kayaknya harus bongkar-bongkar dulu cari tikus. Takut makin merajalela dan merusak bahan lain," imbuh Boby. Karena Ares dari tadi diam saja, Boby memberi usulan.

"Mas Ares," panggil Ana pelan. "Gimana Mas? Beli bahannya nanti aja. Yang penting tikusnya ditangkap dulu."

Akhirnya si empunya toko merespon dengan helaan napasnya. "Tolong diurus dulu tikusnya. Pakai penyemprot serangga atau apa pun untuk mengusir kecoak. Saya mau bantu tapi adonan saya nggak bisa ditinggal. Minta bantuan Arip."

Lihat selengkapnya