The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #12

11. For The Sake of Money

Tidur Dita tidak nyenyak selama beberapa hari ini. Demi Tuhan. Siapa yang bisa tidur nyenyak kalau kamu dihantui pernikahan dengan orang asing yang akan berlangsung dua minggu lagi? Mamanya juga tak bisa diajak kompromi. Setiap Dita ingin bernegosiasi, Safarina langsung pergi atau mematahkan semangat Dita dengan mengatakan, "Dita. Kamu egois kalau menolak pernikahan ini. Kalau kamu menikah, keluarga kita selamat dari utang."

Lalu kalau Dita menolak, berapa persen derajat keegoisan mamanya sendiri?

"AAAK!!!" Dita berteriak histeris di kamarnya. "Ini nggak bisa dibiarin. Aku harus bertemu Pak Ares!"

Pikirannya sibuk merangkai kata-kata apa saja agar Ares membatalkan pernikahan selama perjalanan ke The Leisure Treasure Bakery. Namun, satu hal yang mengganjal pikirannya. Ares tidak pernah mencoba menghubunginya padahal saat itu si chef tidak setuju dengan pernikahan paksaan ini. Aneh, pikir Dita. Tapi sekarang dia tidak mau ambil pusing. Yang jelas, Dita harus bertemu Ares.

***

"Mas, ada yang mau bertemu Mas Ares," ujar Mimi ketika Ares sibuk memelintir adonan roti babka isi coklat.

"Siapa?"

"Namanya Dita. Kayaknya dia pernah ke sini ambil pesanan." Otomatis Ares menghela napas.

"Mau apa lagi dia?" gumam Ares lemah untuk dirinya sendiri, tapi masih tertangkap di pendengaran Mimi.

"Gimana, Mas?"

"Saya nggak bisa keluar sekarang. Pesanan lagi banyak."

"Berarti nggak bisa, ya, Mas. Mimi akan sampaikan seperti itu."

Dita deg-degan luar biasa ketika perempuan berkaca mata itu masuk ke ruangan dan berdiri tegap berhadapan dengannya di depan meja kasir.

"Maaf, Mbak Dita. Mas Ares benar-benar tidak bisa keluar. Hari ini kebetulan pesanan kami lagi overload," jelas Mimi jujur.

"Aaah." Bahu Dita langsung merosot. "Kalau gitu saya permisi, Mbak Mimi," kata Dita sopan. 

***

Pantang menyerah, Dita kembali lagi ke toko roti yang ternyata terkenal itu keesokan harinya. Iseng, Dita pernah mencari The Leasure Treasure Bakery di media sosial. Pengikut media sosialnya sudah mencapai 700K lebih dan akunnya sudah bercentang biru. Dita makin keder ketika tahu Ares juga ternyata seorang chef terkenal di Indonesia.

“Halo, Mbak Mimi.” Dita tersenyum hangat. “Pak Aresnya sibuk nggak hari ini?”

“Mau ketemu Mas Ares, ya?” Dita mengangguk antusias. “Oke. Mimi tanyain dulu ke dapur, ya.”

Belum sampai semenit, Mimi kembali dan menyampaikan pesan yang sama seperti kemarin. Bahu Dita terkulai lemah saat keluar toko. Ares sepertinya memang tidak mau bertemu dengannya. Katanya tidak mau menikah, diajak nego selalu tidak bisa. Tapi Dita tidak mau menyerah. Dia harus bertemu Ares dan membatalkan pernikahan ini bagaimanapun caranya!

***

 Mimi tidak terkejut mendapati si driver ojol manis ini datang lagi untuk ke lima kalinya. "Mau ketemu Mas Ares?" tebak Mimi sebelum Dita sempat bicara.

Dita tertawa kering. "Iya, Mbak."

"Sebentar, ya, Mbak Dita. Saya tanya beliau di dapur."

Dalam lima menit, Mimi muncul kembali. Dari wajahnya saja Dita sudah bisa menebak apa yang akan diucapkan perempuan berambut pendek itu. Dita mencelos. Kedua sudut bibirnya turun karena kecewa.

"Maaf, Mbak Dita. Pak Ares tidak bisa ditemui hari ini."

"Kalau setelah toko tutup, kira-kira bisa nggak, ya, Mbak?" tanya Dita setengah memelas.

"Mungkin bisa. Tapi kami tutup pukul 21.00."

"Ooh. Nggak apa-apa. Saya akan tunggu. Makasih, ya, Mbak Mimi."

Nelangsa, Dita keluar dari The Leisure Treasure Bakery dengan langkah gontai.

***

"Mas, kita pulang, ya," sorak para karyawannya.

"Hm," jawab si bos.

Tokonya langsung terasa sepi karena tidak ada satu suara pun mengisi ruangan, kecuali bunyi dengung oven dari ruangan sebelah—ruangan oven dan ruangan preparasi terletak bersebelahan tanpa pintu—yang sedang memanggang lasagna. Juga ada desisan roti baguette olesan mentega bawang putih di atasnya yang sedang dipanaskan di atas pan. Mereka adalah makan malam Ares yang sangat terlambat.

Pintu dapur terbuka tiba-tiba membuat Ares terkejut setengah mati lalu memegang dadanya. Tersangkanya Mimi yang muncul sambil tersenyum.

"Kok belum pulang?"

"Ini mau pulang, Mas." Mimi menunjukkan tasnya. "Ng ... Mas Ares."

"Sebentar, Mi."

Lihat selengkapnya