The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #13

12. The Deals

Ares senang didatangi si bungsu ke tokonya. Dia memastikan adiknya kenyang sebelum keluar dari toko dengan menyaksikan Mita makan di kantornya tadi. Ares bahkan menyuruh Dewi menyiapkan roti tawar, beberapa pai daging, dan kroisan—his signature product—untuk dibawa pulang.

“Bisa-bisa aku gendut tiap ke sini.” Mita menggosok perutnya yang hangat dengan delivery food traktiran Ares. Tangannya yang lain menggandeng lengan kakaknya.

Ares terkekeh. “This is the least I could do for my only Shelomita.” 

Thank you.” Mita mesam mesem. “ Eh, eh, Mas. Udah tahu belum kalau … there is something going on between Nina and her producer,” bisik Mita, dekat di telinga masnya.

“Maksud kamu apa?” Ares berhenti di depan etalase kue untuk menatap tajam mata adiknya.

I wonder, itu makanya kalian berdua … batal nikah?” Meski enggan membahasnya, tapi Mita merasa harus menyampaikan apa yang dia lihat dan rasakan.

Ares menarik lengan adiknya menjauh dari kerumunan dan berakhir di dinding lemari pendingin yang sedikit tersembunyi. “Dia dan produsernya nggak ada hubungan apa-apa. Kami … putus baik-baik,” dusta Ares.

The thing is, temen segeng aku kebetulan anak produser itu dan Mbak Nina sering Syahnaz pergoki keluar dari apartemen papanya. At dawn!

Sering?

Explain sering,” tuntut Ares.

Mita enggan membalas tatapan Ares dan merasa ujung sepatu slip-on-nya lebih menarik daripada apa pun.

“Mita.”

Mita memelas lemah. “Sejak setahun yang lalu. FYI, ya, Syahnaz nggak tahu apa-apa soal hubungan kalian. Kalian berdua juga nggak go public, kan? Dia murni cerita ke aku karena Mbak Nina sering muncul di TV dan mau dia jadi ibu sambungnya. I'm sorry.”

Tidak mungkin. Ares tidak mau percaya sebelum Nina sendiri yang mengaku telah berselingkuh. Demi Tuhan. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk melupakan apa telah mereka lalui bersama.

Mas, are you okay?” goncang Mita pada bahu kakaknya.

I'm not okay. Puas?” Ares melipat bibirnya, menahan emosi agar tak satu pun keluar dari wajahnya 

“Nggak apa-apa kecewa sekarang. Mending Mas tahu sebelum kalian ijab kabul.”

I don't know. I don't know,” desah Ares lelah. Bahunya turun seturun-turunnya.

“Mbak Nina nggak worth it untuk dipikirin, Mas. Mas pasti akan bertemu seseorang yang lebih baik daripada dia. I hope you find someone who becomes your best friend, lover, and wife for life dan membangun rumah tangga yang harmonis, bukan seperti pernikahan mama papa yang terlalu obsesif dengan pekerjaan dan jabatan tanpa memedulikan anak-anaknya bahagia atau enggak."

Ketika Ares mengamini doa dan harapan adiknya, matanya malah tertumbuk pada sesosok perempuan di ambang pintu masuk yang membuat hidupnya jungkir balik. Dan sosok itu mengingatkannya bahwa mereka akan menikah sebentar lagi. Tapi bagaimana mau menikah? Dia bahkan tidak tahu nama lengkapnya, usianya, di mana dia tinggal, bagaimana keluarganya, atau bahkan sifatnya. Kalau dia menikahi psikopat? Penipu? Atau paling parah dia seorang kleptomania? Kan buat malu. Dia yang akan menjadi best friend, lover, and wife-nya? Yang benar saja!

"Ya Tuhan," desah Ares lirih. Dia menyugar rambutnya dan membuat rambut ikalnya berantakan.

"Mas kenapa?"

"Nothing.”

“Lho, itu temanku.”

Ares mengikuti arah tatapan adiknya. “Yang mana?”

“Mas masih ingat dulu aku pernah cerita punya teman sekelas yang nyambi kerja jadi driver ojol. Nah, itu orangnya. Dia baik banget, beda sama teman-temanku yang lain. Dia nggak peduli sama nama belakang kita.”

I’m not sure I remember—”

"Ditaaa," sapa Mita senang. Mita langsung menyusul Dita yang terlihat celingak-celinguk di ruang display.

"Ha-hai Mit." Kaku dan pucat, justru reaksi Dita berkebalikan dengan reaksi Shelomita. Itu karena orang yang ingin Dita temui berdiri menjulang di belakang temannya—err, maksudnya adiknya. Mendengar Mita mengakui Ares sebagai bagian keluarganya adalah satu hal. Namun, melihat dengan mata kepala sendiri adalah hal lain. Dita tidak tahu apakah dia akan terbiasa dengan pemandangan ini atau tidak.

“Lo pakai jaket ojol. Mau ambil pesanan?” 

“Ng … gue …” Sumpah, Dita hanya mau bertemu kakaknya, bukan mengambil pesanan. Tatapan Ares yang tajam mengintimidasi di belakang Dita membuat lidahnya sekaku kanebo. “Gue mau—”

“Mita, tadi katanya mau ke perpus. Nggak jadi?” serobot Ares enggan. Mengapa dia malah membantu perempuan itu?

Mita berdecak. “Astaga, aku lupa. Dit, besok lo ngampus, kan?”

Dita mengangguk lemah.

Nice. Ada yang mau gue tanyain soal beberapa jurnal. Ajak Yayang juga, ya.”

“Oke.”

Ares membawakan ecobag pesanan Mita dan segera ‘mengusir’ dengan halus adiknya dari tokonya. Lalu Ares berjalan ke meja kasir.

"Mimi, kasih tahu Sandy untuk handle dapur sementara. Saya ada urusan di kantor."

"Siap, Mas."

***

Lihat selengkapnya