“We're all set.” Ares menepuk kedua telapak tangannya.
“Sebentar, Mas.” Mata Dita kembali ke poin nomor satu. “Pernikahan kita nggak akan didaftarkan ke negara? Kita … nikahnya … siri?” tanya Dita pelan, takut-takut.
"Hmm, bisa dibilang begitu."
"Ke-Kenapa?"
"Perjanjian nomor enam. Saya nggak mau orang lain tahu kita menikah karena yang mereka tahu Nina yang akan saya nikahi. Bukan kamu."
Wajahnya datar tapi bola matanya bergetar. Pancaran sorot sedih sekaligus marah berhasil Dita tangkap pada pria di depannya. Bertambah-tambah penyesalannya.
Sesuai dengan perkataan Widyawati tempo hari, pernikahan memang dilangsungkan 'dengan cara mereka'. Ares ingin status pernikahan ini hanya sah secara agama. Dia tidak mau menodai KTP-nya dengan status duda setelah mereka bercerai nanti. Kenapa dibuat ribet dengan mendaftarkan pernikahan ke negara sedangkan pernikahan mereka akan selesai bahkan sebelum jagung dipanen.
Dita tahu pernikahan ini hanya ‘pura-pura’, tapi tidak dapat dipungkiri, seberkas kecewa sempat merayapi hatinya. Pernikahan seharusnya dirayakan dengan khidmat, bukan diam-diam. Seharusnya dia bahagia, teman-temannya ikut bahagia, bukan sembunyi-sembunyi seperti ini.
Dita tertawa kering atas kekonyolan pikirannya barusan. "Te-tentu saja. Saya juga nggak mau orang lain tahu kalau kita sudah menikah. Saya masih mau bekerja. Kebanyakan syarat di job vacancy menuntut single. I-Iya kan, Pak? Dan lagi saya juga mau cari pasangan yang juga suka saya."
"Syukur kamu mengerti. Ada yang lebih penting lagi."
"Apa?"
"Papa kamu gimana? Saya nggak pernah dengar soal beliau. Apa dia setuju dengan pernikahan kamu? Kamu nggak bisa menikah kalau tidak diizinkan papamu."
"Papa udah meninggal."
Ruangan Ares mendadak sunyi. Dita menunduk dan memijit ujung jarinya, menahan cairan panas yang akan merembes keluar dari jelaganya.
"Maaf. Saya turut berduka."
***
Kebaya putih milik Safarina tergantung di daun lemari kamarnya, seakan sedang mengejek gadis yang tengah menatap nanar pakaian bersejarah milik orang tuanya saat menikah dulu. Bahwa dengan pakaian itu, pernikahan sebentar lagi akan terjadi, walaupun hanya pernikahan secara agama.
Ajaibnya, ukurannya sangat pas pada tubuh Dita. Dia hanya perlu memakainya dengan hati-hati karena usia kebaya itu hampir sama dengan usianya, yaitu 23 tahun lebih enam bulan. Dita sedikit berbangga, bahwa dalam hitungan jam, baju itu jualah yang akan mengantarkannya menjadi seorang istri seperti mamanya dulu. Namun, di balik rasa bangga, rasa kecewa lebih besar mengisi ceruk hatinya kepada satu-satunya keluarga yang dia punya.
Apa mamanya bahkan menyayanginya? Sebab Dita sudah merasa diusir dari rumahnya bahkan sebelum dia resmi menjadi istri orang. Tidak ada kesedihan mengantar Dita menikah, yang ada, Safarina sibuk memetakan uang mahar tanpa melibatkan Dita di dalamnya. Sependek ilmu pernikahan yang pernah dia baca, bukankah mahar adalah hak istri?