The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #15

14. Butter Truth

Gedung pencakar langit KKTV masih menunjukkan tanda-tanda tetap hidup dengan mobilitas karyawannya yang masih berlalu lalang walaupun matahari sudah bersembunyi ke peraduannya. Ares mengamati pergerakan itu di lobi gedung.

Di sinilah Ares, menunggu mantan kekasihnya dengan harap-harap cemas. Ares hapal benar jadwal syuting Nina. Seharusnya setengah jam yang lalu Nina sudah selesai bertugas dan dia akan melihatnya keluar dari kotak besi berjalan itu. Nina bukan tipe orang yang suka mengobrol dulu bersama teman-temannya setelah selesai menyelesaikan rekaman. Dia akan langsung pulang atau ke suatu tempat favoritnya untuk menikmati me time. Tapi, Ares terus menelan kekecewaan ketika bukan Ninalah yang muncul dari balik pintu lift.

"Mas Ares."

Ares mengenal orang yang menyapanya. Dia Tito, tim kreatif program Memasak Itu Gampang. Ares pernah menjadi pengisi acaranya dan mengisi slot setiap Minggu pagi pukul 08.00.

"Pulang, To?"

"Belum, Mas. Cari makan bentar. Mas mau ketemu Mbak Nina?"

"Iya. Dia kok belum keluar juga, ya?"

"Gue lihat dia udah pulang tadi sama Bang Rano."

Rano. 

Dia adalah produser acara TV Nina yang dicurigai Shelomita. Sejujurnya Ares sudah biasa dengan informasi Rano yang sering pulang bersama dengan kekasihnya. Sebab, Nina selalu jujur padanya soal, dengan siapa dia hari ini, atau di mana dia berada dan sedang melakukan apa. Rano adalah salah satu nama yang sering Nina sebut ketika Nina sedang tak bersamanya. Tapi setelah apa yang Mita beberkan, kecuriy itu makin menggerogoti hatinya.

"Ooh. Thanks infonya, To." Ares sejujurnya kecewa.

"Kok tumben Mas Ares tunggu di sini. Biasanya langsung ke studio Mbak Nina."

"Saya juga baru sampai." Ares terpaksa berbohong. "Karena Nina sudah pulang, saya susul Nina aja," ujar Ares sekenanya. Padahal dia tidak tahu mantan kekasihnya di mana.

"Ya udah. Gue duluan ya, Mas." Ares mengangguk.

"Nina, kamu di mana sih?" gumam pastry chef tampan berwajah nelangsa. Ares memutuskan untuk pergi ke tujuan berikutnya.

***

Dita menuangkan setumpuk makanan kucing di depan warung Mbak Wati, lalu duduk di trotoar demi mengamati dua kucing jalanan yang kurus kering makan dengan lahap. Sesekali dia membelai punggung kucing-kucing itu. Terasa tonjolan tulang di telapak tangannya. Kucing yang malang. 

Bila uangnya berlebih, gadis itu akan membeli makanan kucing lalu membawanya ke manapun dia pergi dan memberi mereka makan di manapun mereka berada.

"Jangan kucing aja yang makan. Lu udah makan belum?" tanya Surya serius. Pria sawo matang itu berdiri di sebelah Dita. Para driver ojol yang berkumpul di warung Mbak Wati memang sedekat itu. Apa karena sesama pejuang ojol sehingga kesamaan nasib mendekatkan mereka? Dita sendiri tidak tahu. Tapi yang jelas, Dita menemukan keluarga kedua di tengah-tengah para driver berjaket hijau.

"Udah, Bang."

"Tapi napa lu masih di sini, Dita cakep? Udah hampir jam sepuluh. Pulang sono." Surya sewot. Pria itu benar-benar mengernyitkan keningnya ketika Dita malah nyengir.

Perhatian seperti ini selalu membuat hatinya menghangat. Mamanya sendiri tidak pernah menyuruhnya pulang cepat walaupun tahu Dita masih berkeliaran di luar malam-malam.

"Tunggu sepuluh menit lagi, Abang Tamvan. Kalau nggak ada notif, gue cabut. Beneran." Surya geleng-geleng kepala.

Tak sampai setengah menit, sebuah notifikasi masuk ke ponsel Dita. "Bang, ada yang pesen nasi goreng kambing," teriak Dita kegirangan.

"Syukurlah. Habis itu langsung pulang, lu Dit."

"Bereees. Gue cabut, Bang."

"Iyeee."

Lihat selengkapnya