The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #16

15. The Sacred Vow

Banyak hal berkelabat di kepalanya. Pernikahan macam apa, ini? Tidak ada perasaan bahagia sama sekali. Yang ada, Dita merasa tertekan dengan kebohongan yang dia dan Safarina ciptakan. Dan perasaan ini akan dia tanggung seumur hidupnya. Tidak akan ada tamu, apa lagi keluarga besar kedua belah pihak. Hanya ada Dita dan mamanya, Ares dan mamanya, lalu seorang penghulu, dan dua saksi dari keluarga masing-masing. Lalu mamanya yang terkesan cuek pada pernikahan anaknya tapi berbinar ketika Ares telah mentransfer uang mahar ke rekening Safarina. Terakhir, ketiadaan sang papa di momen pentingnya.

Dita duduk diam di sisi Ares, di depan meja kecil tempat tangan Ares akan menjabat tangan wali yang akan menikahkannya. Dia sempat melirik calon suaminya yang gagah dalam balutan jas hitam dan kemeja putih. Tapi buat apa dia memuji Ares? Toh, dia bukan suami sebenarnya. Pernikahan ini bukan betulan juga. Hatinya sendiri sudah kacau balau. Beberapa menit lagi dia akan jadi seorang istri. Ya Tuhan. Benarkah dia akan melepas lajangnya dengan cara seperti ini? Matanya mulai mengabur. Cepat Dita hapus bukti kesedihannya. Namun, bagaimanapun Dita menahannya, pada akhirnya air matanya luruh tak terbendung. Tanpa papa, tanpa kesedihan mama, dan tanpa cinta dari  calon suami. Lengkap sudah penderitaannya.

Ares menegang saat tahu gadis yang biasanya kusam terkena debu jalanan kini terlihat lebih manis dan cantik dalam balutan kebaya putih klasik sedang menangis ketika duduk di sisinya. Naluri untuk menenangkannya dengan pelukan dan tepukan di punggung muncul begitu saja tanpa peduli dia adalah penipu yang hanya menginginkan uangnya. Sebagaimana Dita malam itu mencoba menghiburnya, maka kali ini Ares akan melakukan hal yang sama.

Dita berjengit saat tangannya yang gemetar diremas dengan lembut oleh tangan Ares yang dingin. Seakan didorong oleh kebutuhan yang mendesak, Dita mencari mata Ares sebagaimana Ares juga mencari matanya. Dita sadar, dalam menit-menit yang berlalu, mereka sedang saling menghangatkan, berbagi keresahan yang tak terucap, dan meredam kegelisahan yang terpancar dari bola mata masing-masing.

Detik itu juga, Ares mengerti arti tatapan itu. Mereka duduk di sini hanya untuk menyelamatkan kepentingan orang tua mereka. Ares dan Dita … adalah korban keegoisan orang-orang tercinta mereka.

***

Hal pertama yang Ares lakukan sesampainya mereka di apartemen adalah mendaftarkan sidik jari Dita di smart door lock pintunya. Dita bahkan belum berganti baju dengan pakaian yang lebih nyaman. 

"Ini kartu akses kamu. Jangan sampai hilang. Jangan mengundang siapa pun ke apartemen saya. Jangan melakukan hal aneh tanpa sepengetahuan saya. Mengerti?"

Dita mengangguk enggan.

"Ini ATM. Pinnya tanggal ulang tahun kamu. Sudah saya isi uang. Tiap bulan akan saya transfer untuk kebutuhan sehari-hari."

"Ya. Makasih," jawabnya datar.

"Saya punya kucing peliharaan. Kalau tidak suka, jangan sakiti, hindari saja." Ares tahu kok, Dita suka kucing. Terlihat dari foto-foto di galeri ponselnya waktu itu. Tapi Ares hanya ingin menegaskan sesuatu: jangan coba-coba mengganggu Maple!

"Saya suka berteman dengan kucing, asal Pak Ares tahu."

"Oke. Lalu kamar kamu di sebelah sini." Ares menunjuk sebuah pintu, bersebelahan dengan kamarnya.

"Ya."

Lihat selengkapnya