The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #17

16. The Newlywed

Belakangan ini pelanggan The Leisure Treasure Bakery menggemari roti babka—roti berlapis coklat atau pun selai lainnya yang berasal dari negara-negara Eropa Timur dan dibentuk seperti kepangan rambut. Jadi beberapa hari ini menu roti babka dibuat sedikit lebih banyak dari hari biasa. Tergantung animo masyarakat. 

Tangan Ares cekatan menggiling adonan roti yang sudah dioles selai coklat buatannya, digulung, lalu memotongnya menjadi tiga bagian. Kemudian dengan telaten, tiga adonan tadi dikepang—seperti mengepang rambut. Setelah rapi, adonan tersebut dimasukkan ke loyang yang sudah dioles mentega. Ares sangat menikmati kegiatan ini.

"Seneng banget aku kalau Mas Ares buat babka. Menghipnotis," puji Ana. Dia sedang istirahat sebentar dari kegiatan menghias kue, lalu melipir ke station Ares, mengamati si bos bekerja.

"Ana, tolong kain lembab yang di sana."

Ana segera mengambilnya. Si bos menutup adonan dan menyimpannya ke ruangan oven untuk proofing terakhir yang suhu ruangannya jauh lebih hangat dari ruangan lain.

"Hm, Mas. Kok hari ini Mbak Dita nggak ke toko?" tanya Ana sok santai setelah Ares kembali ke ruang preparasi. Padahal jiwa keponya sudah meluap tak terbendung. Ana main mata dengan Sandy yang sedang pura-pura serius menggulung roti loaf manis berkismis, padahal antenanya tinggi menjulang.

"Kenapa mau tahu, kamu?" Ares terus mengulang proses tadi untuk roti babka selanjutnya dengan selai bluberi.

"Soalnya beberapa hari belakangan Mbak Dita kan sering mampir buat ketemu Mas Ares."

"Kamu nggak ada kerjaan sampai ingin tahu urusan orang lain?" Ares menegakkan punggungnya dan menatap Ana tajam. Yang ditatap menciut dan entah kenapa kakinya otomatis melangkah mundur.

"Oh, ada Mas. Aku mau panggang cake trus ngehias kue buat ultah anak Pak Walikota. Permisi, Mas."

Ares mendengus kecil. Padahal dia sudah melupakan ijab kabulnya tadi pagi dengan menenggelamkan diri dengan membuat roti babka. Kini Ana mengingatkannya kembali bahwa dia sudah menjadi seorang suami dari perempuan antah berantah tukang tipu gara-gara mereka kepergok tidur bersama.

Kenapa gadis itu tetap ngojek kalau mahar yang diterima sebegitu banyak? Pikir Ares tak habis pikir. Dia terus mengomel dalam kepalanya. Masih serakah sama uang? 250 juta tidak cukup? Mama sama anaknya sama saja. Dan kenapa harus ngojek dari sekian banyak pekerjaan? Demi Tuhan. Mengendarai motor di tengah lalu lintas Jakarta bukan pilihan yang bagus untuk seorang perempuan.

"Mas Ares."

"Apa, San?"

"Kok bengong?"

Astaga. Semua gara-gara gadis itu!

***

Lihat selengkapnya