"Kenapa lo ketawa sendiri?" Indra memicingkan mata pada sahabatnya.
"Cuma keinget Maple. Dia udah mulai lincah sekarang. Lari-larian di apartemen."
Indra ber-ooh ria. Tahu benar kalau sahabatnya yang satu ini pecinta kucing. Setahu Indra, Maple kucing kalem yang sangat gemuk, sukanya tidur, dan tidak terlalu suka orang lain mendekati dirinya. Jadi kalau sampai Maple berlari-lari, itu memang berita besar. Dan Indra juga paham. Ares ini cat person. Saking cintanya sama Maple, Ares pernah melewatkan pertemuan rutin dengan ketiga sahabatnya gara-gara Maple sakit.
Namun, kejadian sebenarnya mengapa Ares tertawa adalah, ketika pulang dari tokonya tadi malam, Ares menemukan suara tawa riang Dita yang sedang dikejar Maple di huniannya!
Maple lari mengejar Dita? Kenapa aku baru tahu Maple suka kejar-kejaran? pikir Ares saat itu. Dan gadis itu tertawa! Sayang, setelah kepergok dan ngos-ngosan karena kelelahan, Dita panik dan langsung lari masuk ke kamarnya. Bukannya kesal, Ares malah mendengkus geli.
Ada satu hal yang sempat terlintas dalam benak Ares. Selama Nina menjadi kekasihnya, tidak pernah sekali pun menunjukkan tanda-tanda dia menyayangi Maple. Sangat bertolak belakang dengan gadis yang sudah menjadi istrinya itu. Dan semakin banyak mainan kucing baru di sekitar kandang Maple. Bukan Ares yang membelinya, tapi Ditalah pelakunya. Ares tambah yakin, Dita tidak hanya senang berteman dengan kucingnya, tapi dia juga menyayangi kucing gemuknya.
"Res, kok gue nggak pernah lagi lihat lo jalan sama Nina?"
Memastikan tidak ada yang akan menguping di area kafe The Lounge pagi ini—tempat Ares, Indra, Tobi, dan Mike biasa berkumpul—Ares lalu menghela napas, bersandar letih. Belum juga bercerita separuh jiwanya sudah melayang.
"Kami selesai," ucap Ares lemah.
"What the ... Man! Bukannya kalian mau nikah? It should be this month, right?"
"Yes. Tapi terjadi sesuatu dan Nina putusin gue." Ares tersenyum masam.
"Mind to share?" tanya sahabatnya. Ragu sebenarnya untuk bertanya, namun Indra ingin bersimpati walaupun tahu Ares tidak seterbuka itu membeberkan kehidupan pribadinya. Laman pribadi med-sosnya saja hanya berisi menu di toko rotinya. Liburan, keluarga, kegiatannya sehari-hari? Tidak ada yang tahu.
"Long story short, gue nggak bisa kalau harus mempertahankan hubungan sendirian. Lebih baik kami berakhir sekarang daripada menyesal di kemudian hari." Call him a liar, tapi menurut Ares lebih baik begitu. Perselingkuhan Nina karena ketidakhadiran dia dalam kehidupan percintaan mereka juga bukan hal yang mudah untuk Ares ceritakan.
"I'm sorry. Seharusnya lo kasih tahu gue dari awal. Lo tahu, gue, Mike, even Tobi si gesrek, kami selalu ada buat lo seperti lo yang selalu ada buat kita." Yep. Ares memang seloyal itu.
"Thanks, Man. I appreciate that."
"Sepupu gue available, sih. Kalau lo ... you know, mau move on."
Ares memutar bola matanya dramatis kemudian tertawa lepas. Menyenangkan sekali tertawa tanpa beban seperti ini. Kapan terakhir dia tertawa seperti hari ini, ya?
"You gotta be kidding me, Ndra. Sebentar ada yang telepon."
Dita.
Ini adalah telepon pertamanya setelah dua bulan mereka bersama. Jantung Ares mulai berdegup kencang untuk alasan yang tidak dia ketahui.
"Kenapa, Dita?" sambar Ares tidak mau berlama-lama dengan basa basi.
"Pak Ares. Maple, Pak."
Suara Dita tidak terdengar normal. Malah seperti mengkhawatirkan sesuatu. Terlebih Dita membawa-bawa nama Maple. Segala tentang Maple membuatnya waspada.