The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #20

19. What's So Special About Happiness?

Teman. Teman? Hah!

Sepanjang perjalanan pulang, diam adalah pilihannya. Dita memasang headset lalu pura-pura membaca hasil revisi bab lima yang tidak jadi ditunjukkan ke Bu Eli.

Dita sangat sadar ini hanya pernikahan pura-pura. Mereka bahkan sudah bersepakat untuk menyimpan rapat rahasia ini. Tapi Dita lebih kesal pada dirinya mengapa dia kesal hanya dianggap teman?

Suara musik di radio mengisi kesenyapan ganjil yang tiba-tiba ini. Sejak mesin mobilnya di hidupkan, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut gadis di sebelahnya. Padahal waktu di klinik, bakat cerewetnya sudah terdeteksi. Tapi sekarang, ada apa dengan kertas-kertas yang dibacanya? Apa dia menyesal sekarang karena mengantar Maple ke klinik hewan dan membuatnya tidak jadi bimbingan? Ares bingung bagaimana sebenarnya kepribadian Dita. Bahkan sejak turun mobil, naik lift, hingga memasuki apartemen, Dita diam seribu bahasa. Ares merasa harus mencari cara untuk mendengar Dita bicara lagi.

Tapi sebelum kembali ke Dita, Ares akan mengurus Maple terlebih dahulu. Maple dipindahkan dengan sangat hati-hati ke sebuah lipatan selimut tebal, seakan-akan kucing itu adalah sosok rapuh. Pria itu duduk bersila di depannya sambil mengelus kucingnya dengan sayang.  Pokoknya, malam ini Ares bertekad tidak akan tidur dan terus mendampingi anabulnya.

Tahu-tahu Dita duduk di lantai di sebelah Ares, ikut membelai kepala Maple lalu berkata, "Maple, maafin aku ya. Aku beneran nggak sengaja. Besok aku beliin treat kesukaan kamu."

Si chef mengulum senyum dan menyimak. Ares yakin ucapan Dita sangat tulus.

Tak lama, Dita beralih ke suaminya. "Pak. Saya masuk ke kamar." Lalu meninggalkan Ares yang heran menatap punggung gadis itu menghilang di balik pintu.

Ada apa lagi dengan gadis itu?

***

"Ma, Mama lagi di mana? Kok ribut banget suaranya?"

Orang tua tetaplah orang tua sesalah apa pun perbuatan yang pernah mereka lakukan. Dita rindu Safarina. Rindu curhat seperti saat dirinya masih SMA, rindu ketika mamanya selalu ada untuknya. Rasa bersalah yang menumpuk karena Maple sakit, ditambah kesal gara-gara suaminya memperkenalkan dirinya sebagai teman di depan orang lain membuatnya ingin meluapkan gundah hati.

Dita rela menahan lapar dengan tidak keluar kamar karena tahu hari ini Ares akan selalu berada di sisi Maple sampai kucingnya sehat. Si Tukang Roti sampai tidak bekerja demi kucingnya! Tapi Dita tidak mau bersinggungan dengannya malam ini. Padahal Dita juga ingin berada di dekat Maple. Dilema.

"Mama lagi di pantai, Nak." Suara angin menyambar-nyambar mikrofon ponsel mamanya sampai ke rungunya hingga menimbulkan suara berisik. Oke. Dita percaya.

"Pantai mana?"

Dalam pikiran Dita kalau tidak di Pantai Ancol, Florida, atau Anyer. Mereka sering ke sana dulu saat bersama papanya. Tapi masalahnya dengan siapa mamanya pergi? Apa kegiatan arisan?

"Mama lagi jalan-jalan di Maldives." Safarina terkekeh kecil di ujung sana.

"Emang Maldives di mana, Ma?”

"Maldives itu Maladewa, Aphrodita. Geografi kamu gimana, sih? Maladewa itu negara kepulauan dekat Sri Lanka. Ya nggak dekat-dekat amat sih. 700 KM lah dari Sri Lanka.”

Lihat selengkapnya