"Pak Ares, kok chicken alfredo-nya bisa se-creamy ini, sih?" ungkap Dita jujur. Setiap suapan terasa seperti surga makanan Italia.
Sempat kembang kempis lubang hidung Ares. Pujian gadis ini membuatnya berterima kasih pada teman Italianya—Angelo—sewaktu sekolah di Art of Culinary School dulu yang sudah membagi resep turun-temurun keluarganya.
"Udah makan aja." Telinganya mulai memanas.
"Tapi beneran enak, Pak. Saya juga pernah buat pasta kayak gini sendiri. Saya malah belajar langsung sama chef-nya dulu. Tapi nggak seenak buatan Pak Ares."
"Sama chef? Siapa namanya? Mana tahu saya kenal."
"Itu lho Pak, Mas Radhi. Yang punya Restoran Amaranggana yang eksklusif itu. Saya juga baru tahu kalau dia juga tinggal di gedung ini waktu bawa Maple jalan-jalan di taman. Pak Ares kenal sama Mas Radhi?"
Dita mengosongkan piringnya dengan sangat bersih hingga saus terakhir. Tidak tahu saja gadis itu kalau saat ini dia sedang diperhatikan dengan saksama oleh yang punya apartemen. Tapi masalahnya, kening pria 32 tahun ini mengernyit aneh. Tunggu!
"Mas Radhi?"
"Iya. Saya pernah belajar masak sama Mas Radhi waktu kelas tiga SMA. Privat tiga minggu full. Mama yang suruh. Pak, mau roti ini lagi." Sigap, Ares mengkerat sepotong besar focaccia dan memindahkannya ke piring Dita. "Ini daun apa?" tunjuk Dita ke setangkai tumbuhan berdaun kecil-kecil. Tapi rasanya sangat aromatik khas bumbu Italia.
"Itu daun rosemary."
"Serpihan hijau-hijau ini?"
"Daun oregano."
Tidak lepas tatapan Ares pada gadis di depannya untuk setiap gigitannya, kunyahannya, hingga pertanyaannya.
"Kalau yang bulet-bulet ini tomat ceri, kan?"
"Hm." Ares mengangguk.
Focaccia itu roti asin atau gurihnya Italia yang datar dengan banyak rempah di dalamnya. Salah satu bahan untuk membuat roti ini adalah minyak zaitun yang sudah diinfus dengan bawang putih dengan kombinasi dari salah satu herbs seperti rosemary, oregano, daun basil, hingga thyme. Untuk toping bisa buah zaitun, tomat, keju parmesan, hingga kacang. Intinya, sih, sesuai selera.
Ares memberikan nilai plus bagi orang-orang yang menghargai makanan buatannya seperti yang Dita lakukan sekarang: menghabiskan chicken alfredo buatannya hingga licin tak bersisa. Ketika makanan yang dibuat dimakan dengan lahap oleh orang lain, adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi Ares. Seulas senyum mampir sebentar pada garis bibirnya.
Nina saja tidak pernah menghabiskan makanan yang Ares masak untuknya, sekali pun dia memuji-memuji masakannya. Tapi gadis ini ... Aah, benar. Dia mahasiswi, sedang belajar. Kabarnya anak yang masih sekolah makannya memang banyak, kan? Mereka butuh kalori lebih banyak karena berpikir, kan? Ya. begitu lebih masuk akal. Lihatlah bagaimana cara gadis ini menggoyangkan kepalanya karena roti buatan Ares. Menggemaskan. Lagi-lagi seulas senyum menghias bibirnya. Ares tidak menyesal telah berkutat di dapur sejak tadi siang sambil bolak-balik melihat keadaan Maple.
Satu gigitan besar focaccia lolos ke mulutnya walaupun tadi kekenyangan setelah makan sepiring besar pasta. Tapi gadis itu tidak peduli. Makanan enak memang pembunuh bad mood-nya. Dita lupa mengapa dia jaim keluar kamar. Dita juga lupa mengapa dia kesal pada suaminya tadi di klinik hewan.
“Dita.”
“Apa, Pak?”
"Kenapa kamu panggil Mas Radhi ke Radhi?"
"Waktu itu saya panggil dia Chef Radhi ini, Chef Radhi itu. Eh, dia protes. Akhirnya saya disuruh panggil mas ke Mas Radhi. Lagian usia kita nggak beda jauh."
"Lalu bagaimana dengan usia saya? Saya ketuaan begitu, sampai kamu panggil saya Pak Ares ini, Pak Ares itu?" ketus Ares.