"Maple, aku ngampus ya."
"Miauw."
Makhluk berbulu lebat itu terus menandukkan kepalanya ke kaki Dita dan menatap penghuni baru itu dengan tatapan sedih, penuh harap. Maple tidak mau Dita pergi.
"Tapi aku harus ketemu Buk Eli, Maple. Masih ada revisi. Ya?"
"Miauw."
Kucing yang tidak lagi keterlaluan gemuknya itu mengelilingi kaki Dita sambil menandukkan kepalanya lagi. Dita tidak tahan kalau diginiin. Bisa-bisa dia batal ke kampus gara-gara main dengan Maple. Bersama Maple membuatnya sering lupa waktu.
"Maple. Jangan begitu. Nanti pulang kampus kita main, ya."
"Miauw."
Sebagai salam perpisahan, Maple digendong dan diberi ciuman disekujur tubuhnya. Untung Ares selalu rutin membawa Maple ke salon kucing. Grooming is a must.
***
"Lo punya kucing? Lucu banget. Mirip sama kucing Mas Ares." Jantung Dita langsung berhenti beroperasi saat itu juga. Mita tak sengaja menangkap gambar wallpaper HP miliknya.
Mita menarik kursi di seberang meja. Tidak ada lagi ketenangan suasana kafe dalam mengerjakan revisi final skripsinya. Yang ada, tengkuk Dita panas dingin. Mita tidak boleh tahu dia dan kakaknya tinggal bersama. Apa kata Mita kalau tahu temannya ini sudah menikah dengan kakaknya? Apa dia akan benar-benar dituduh sebagai gold digger? Kiamat sudah dekat judulnya.
"Lu-lucu, kan?" Pura-pura mengagumi sebentar lalu segera menyimpan gawainya ke dalam tas.
"Lucu, sih, tapi nggak terlalu suka kucing. Terus, setiap gue ke apartemen Mas Ares, kucing gemuk itu selalu menghindari gue. Cuma mau dipegang sekali-sekali."
Dita menelengkan kepalanya heran. Kelakuan Maple bertolak belakang dengan cerita Mita. Bahkan Dita yakin sejak pertemuan pertama dengan Maple, dia sudah diterima oleh kucing gendut itu.
"Namanya juga kucing." Ganti topik, Dita. "Udah siap buat sidang?"
"Disiap-siapkan," jawab Mita santai. "Gue udah baca buku sampai muak, sampai mata gue sepet."
"Gue yakin kok, lo itu pinter jadi semua bakal lancar," ucap Dita tulus. "Waktu seminar proposal aja cara bicara lo udah kayak pembicara profesional. Somehow gue iri. Kadang gue ngomong di depan banyak orang masih belibet."
"Thanks. Lo ngerendah deh, Dit. Eh btw, cuma elo deh, yang kasih gue moral support nggak pakai embel-embel di belakang."
"Bukannya dukungan moral yang paling lo butuhkan ketika akan sidang? Gue kalau di posisi lo juga begitu, kali. Kalau dukungan kepintaran otak mah, lo lebih jago dari gue." Dita tertawa lepas. Dita sadar diri kok dengan kemampuannya.
"Temen-temen se-geng gue udah pada minta party, hang out, sama jalan-jalan kalau gue lulus sidang. Nggak ada tuh yang bilang, Mita, fighting, atau Mita, lo bisa. Selamat berjuang. Bullshit."
Tawa Dita spontan berhenti kemudian tercengang. "Masa?" Begitu ya, pergaulan seorang Mita selama ini.
"Yes. Tapi kalau gue tinggalin mereka, gue kayak kehabisan stok teman. Nggak tahu deh lo gimana sama temen lo. Gue nggak suka sendirian. Di rumah udah sepi. Masa hidup gue di dunia luar juga sepi?"