The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #23

22. Down In The Dumps

Ucapan syukur bergema berkali-kali setelah Dita mendapatkan jadwal untuk sidang akhir. Ini momen yang ditunggu-tunggu. Tinggal sedikit lagi, maka dia akan keluar dari kampus dan mencari kerja secepatnya.

Orang pertama yang ada dalam benaknya untuk diberi tahu kabar baik ini adalah Safarina. Dita harus memberitahu mamanya, sekalian meminta doa, restu, dan kalimat penyemangat dari orang tua satu-satunya. Karena, hanya mamanya yang dia punya di dunia ini. Sayang, keinginan tak sejalan dengan kenyataan. Dita berkutat dengan ponselnya, berkonsentrasi penuh menunggu koneksi tersambung dengan Safarina. Tak peduli orang-orang berlalu lalang di depannya karena dia sedang duduk bersandar di dinding lorong kampus. Masalahnya, sudah belasan kali memencet nomor mamanya, tapi hasilnya nihil.

"Kenapa mama nggak bisa di hubungi?"

Dan begitu juga dengan pesan yang Dita kirim. Pesannya hanya sampai pada centang satu. Kepalanya jadi berdenyut. Apa terjadi sesuatu pada mamanya?

"Mama bikin Dita khawatir, tahu. Mama nggak diapa-apain sama Om Luki, kan?" Dita sampai bicara sendiri karena saking paniknya.

"Diiit. Kita sidang di hari yang samaaa. Yesss," teriak Yayang dari kejauhan. Yayang berhenti melambai ketika merasakan aura yang berbeda dari sahabatnya.

"Yang, Mama kok nggak bisa dihubungi, ya? HP-nya nggak aktif."

"Loh, kok bisa? Emang lo nggak ketemu mama lo tadi pagi?"

Otomatis Dita memejam matanya, menyesal dan merasa bersalah karena mungkin dia harus berbohong. Semua campur aduk. Yayang tidak tahu apa-apa tentang kehidupan rahasianya 

"Itu ... gue mau kasih tahu kalau tanggal sidang udah keluar. Eh, kita sidang di hari yang sama kan, Yang?" putar Dita cepat. Topik mamanya harus segera ditinggalkan, walaupun pikirannya tetap tertuju pada Safarina seorang.

"Iya. Gue pagi, elo dapat sore, ya? Tapi tenang. Lo nggak wajib tungguin gue. Lo kan mesti belajar juga, Dit. Sorenya gue bakal nungguin elo. Oke?!"

Rasanya Dita mau menangis dan memeluk sahabatnya detik itu juga. Dita merasa tidak pantas diperlakukan sebaik ini oleh sahabat yang dia bohongi.

"Yang, gue sayaaang sama lo. Lo tahu, kan?"

"Dita! Lo bikin gue merinding. Gue sukanya sama lakik, ya."

Dita tertawa hambar. "Tentu. Eh, gue mesti pulang, nih. Mau kasih tahu mama langsung."

"Oke. Gue ke perpus, cari tambahan bahan belajar."

"Bye, Yayang Inggit Kusuma, SE. Amiiin."

"Bye juga, Aphrodita Diana Saraswati, SE."

"Amiiin."

***

Terik matahari, padat kendaraan, dan macet panjang, menambah daftar stresnya Dita. Pikirannya hanya dipenuhi satu hal: keamanan mamanya. Tapi Dita tidak bisa bergerak karena macet sialan ini.

Baru menggas satu meter, tiba-tiba …

"Aaaak!" 

Hampir saja Dita menyerempet sebuah sportscar mewah asal Jerman di depannya. Dadanya berdentam kuat, darahnya berhenti mengalir dan seketika ujung-ujung jarinya mendingin. Dita hampir saja menambrakkan dirinya dengan suka rela! Mau cari mati kamu, Dit?

Lihat selengkapnya