Dua kali sudah dia dimaki-maki di waktu yang berdekatan. Seseorang datang mencengkeram bahu Dita kuat, memutar badannya dan menghentikan teriakannya ke rumahnya sendiri.
"Sudah tahu pagarnya digembok, ya pasti nggak ada orang!" sewot ibu-ibu bersanggul. Sasak rambutnya mengingatkan Dita akan ibu-ibu pejabat di Senayan.
"Saya lagi panggil Mama saya, Buk. Ma. Mama, Dita pulang," teriak Dita lagi pantang menyerah.
"Ooh, anaknya Safarina," ucap Ibu itu angkuh. "Saya pikir debt collector. Soalnya sudah beberapa hari ini debt collector sering banget datengin rumah ini."
"Ngapain debt collector ke rumah saya? Kami nggak ada utang lagi, kok." Sebab, Dita sendiri yang melunasi utang Mamanya ke bank sehari setelah ijab kabul.
"Rumah kamu?! HAH!" dengus Ibu itu. "Dengar, ya. Rumah ini sudah jadi milik saya. Safarina sendiri yang jual ke saya sejak sebulan yang lalu."
Dita terkesiap. "APA?! Enggak. Enggak mungkin mama jual rumah papa. Ini peninggalan papa saya satu-satunya," teriak Dita histeris.
"Kalau nggak percaya," Ibu tadi pergi ke mobilnya mengambil sesuatu. Dita melihatnya. Sebuah map coklat digenggam erat dan perasaan Dita sudah tidak enak. "nih, buktinya. Surat kepemilikan tanah dan bangunan sudah sama saya. Kami sudah transaksi secara sah di mata hukum di depan notaris. Ini kuitansi penjualannya."
Ada bubuhan tanda tangan mamanya di kuitansi penjualan. Tapi Dita tak mau percaya. Bisa saja ibu ini seorang penipu.
"Bukti ini kan bisa dibuat-buat. Saya nggak percaya. MAMA, DITA DI LUAR, MA," teriak Dita ke rumahnya lagi.
Si Ibu memutar bola matanya dramatis. Kini Dita mengguncang pagar besinya hingga berisik. Beberapa tetangga keluar gara-gara keributan mereka.
"Ada apa ini?" tanya seorang lelaki paruh baya bersarung dan memakai kaus oblong putih. "Dita, udah lama nggak pulang. Kamu udah kerja di luar kota?"
"Pak RT, kata ibu ini rumah saya udah dijual. Mama nggak kasih tahu apa-apa sama saya. Mama juga nggak bisa dihubungi dari tadi," rengek Dita.
Pak RT malah menghela napas dan wajahnya berubah sendu seketika.
"Pak RT, tolong dijelaskan sama gadis ini. Saya sekarang yang punya rumah ini, dia ngotot kalau rumah ini masih miliknya."
"Nak Dita. Apa Buk Rina ndak kasih kabar apa pun soal penjualan rumah kalian?"
Dita menggeleng lemah.
"Saya sudah tunjukkan semua bukti hitam di atas putihnya, Pak. Dia tetap nggak percaya," sewot Ibu itu.
"Bu, tenang dulu. Sepertinya Dita memang tidak tahu menahu," imbuh Pak RT menenangkan.
"Bukan urusan saya. Tolong ya, Pak RT. Saya nggak bisa meladeni gadis ini lama-lama. Saya ada urusan lain," ketus si pemilik baru rumah Dita. Matanya melotot tidak senang.
"Baik, Bu Asih."
Belum sejengkal Bu Asih pergi, Dita menuntut Pak RT-nya. "Pak, beneran kata ibu itu? Rumah ini udah dijual?"
"Iya, Dita. Mamamu sama sekali ndak kasih tahu kamu?"
Dita menggeleng.
"Sekarang kamu tinggal di mana?"
"Saya numpang sama temen, Pak."
Kurang dari sebulan lagi jatahnya tinggal di apartemen Ares. Setelah itu, dia tinggal di mana?
"Yang sabar ya, Dita."
Setelah menepuk bahunya, Pak RT pergi meninggalkan Dita yang terjongkok layu di depan rumah peninggalan papanya, memandang sedih rumah yang sudah dia tinggali selama 22 tahun. Pandangannya mengabur. Tak terasa air matanya mengalir deras siang itu
***
Di tengah kesedihannya yang dalam, tahu-tahu motornya berhenti di depan toko The Leisure Treasure Bakery. Gadis itu menatap nanar bangunan tua itu.
Mengapa aku ke sini?
Padahal yang dibutuhkannya adalah bergelung di dalam selimut, melupakan musibah ini sejenak dengan tidur atau bermain dengan Maple. Tapi justru Dita malah ke toko kue ini.