"Berat," kata suara serak itu. Matanya tak sanggup dibuka. Tubuhnya lemas, dadanya sesak, dan dingin menyergap kulitnya menyusup sampai ke tulang.
"Miauw," kata Maple pelan.
"Kamu tidur di kamarku, Maple?"
Benar. Penyebab dadanya sesak adalah si kucing gemuk yang tidak terlalu gemuk lagi yang duduk di dadanya. Tapi tetap saja masih berat.
"Maple, kamu turun dulu, ya." Dita menggeser Maple lembut sehingga berpindah ke sisi kanannya sekarang. Gadis itu menarik selimutnya sampai ke dagu.
"Miauw."
"Hm," balas Dita lemah.
"Miauw."
Ketukan pintu kamarnya membuat Maple berlari ke arah pintu. Tapi Dita tahu siapa yang melakukannya.
"Masuk."
Sesaat setelah pintu kamarnya dibuka, Maple langsung keluar, sedangkan yang membuka pintu, dalam balutan baju rumah bersandar pada kusen pintu dengan tangan kanan masuk ke kantong celana menatapnya dengan khawatir.
"Maaf ya, saya harus keluarin Maple. Dia mungkin butuh waktu pribadi di litter box-nya," ucap Ares bersalah. Maple memang langsung menunaikan hajatnya sekarang juga.
"Iya. Nggak apa-apa.”
Ada yang tidak beres. Gadis ini terlihat kacau, pikir Ares.
"Kamu … baik-baik saja?" Dua langkah lebar Ares sangat mempersingkat jarak mereka.
"Hm."
Anggukan samar gadis itu tidak bisa menipu penglihatannya. Satu langkah lagi dari Ares membuat mereka hanya dibatasi ruang kosong berjarak 30 cm. Ares memutuskan duduk di pinggir kasur sisi kanan Dita.
"Maaf. Tapi saya harus memeriksanya."
Tiba-tiba telapak tangan besar itu menempel di dahinya. Dita berjengit, bukan karena tangan Ares dingin, tapi sentuhannya yang lembut. Dita menekan dadanya yang berdebar aneh dari balik selimut.
"Panas. Saya ambil termometer dan parasetamol. Saya akan ganti selimut kamu dengan yang lebih tipis."
"Makasih. Tapi saya nggak bisa minum obat tablet," ucap Dita pelan. Dita siap diledek.
"Biasanya makan pakai apa?"
"Pisang kalau ada. Kalau nggak ada makanan apa pun bisa."
Mengejutkan, tidak ada kata-kata cemoohan atau ejekan. Pria itu langsung menghilang dan kembali beberapa menit kemudian dengan apa pun yang dibutuhkan Dita tadi.
"Makasih," ucap Dita setelah menerima sebutir obat dan pisang yang sudah dipotong kecil.
Satu tablet parasetamol lolos dengan susah payah melalui kerongkongannya. Hanya minum obat saja sudah melelahkan. Dita menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.
"Sekarang 38.9 derajat. Kita cek sebentar lagi. Kalau panasnya tidak turun juga, kita ke IGD."
"Tapi—”
"Lakukan saja seperti yang saya bilang tadi, Dita."
"Saya harus patuh seperti Mas Ares usir saya dari toko kemarin?" Suaranya mulai bergetar. Dengan cepat matanya mengabur. Lonjakan emosi tiba-tiba ini benar-benar menguasai akal sehatnya.