Kalau tidak disuruh pulang, Ares tidak mau duduk di meja makan bersama dengan orang tua dan adiknya. Ares akan memilih kencan dengan roti buatannya, atau buttercream dengan warna warni pastel untuk hiasan cupcake-nya.
Ajaib bila semua anggota keluarga Sasongko berkumpul bersama saat makan malam. Tapi satu hal yang membuat Ares bertahan dan ikhlas seutuhnya meninggalkan toko rotinya lebih awal: senyum bahagia Mita ketika semua orang yang dicintainya duduk dalam satu meja. Walaupun sudah 22 tahun, tapi Mita akan selalu menjadi adik kecil cengengnya Ares.
"Ada rencana untuk balikan dengan Nina, Res? Papa ketemu Nina di KKTV kemarin."
Otomatis semua mata tertuju pada anak sulung Sasongko. Ada pengharapan dalam pasang mata kedua orang tuanya. Ares tahu itu. Tak sanggup rasanya dia mematahkan harapan mereka.
"Mas Ares cari calon yang lain aja deh, Pa." Mita mendahului Ares menjawab.
Ares menoleh, melempar tatapan tajam pada adiknya, menyuruhnya tidak bicara omong kosong.
"Apa yang salah dengan Nina? Papa suka padanya."
"Kalau aku sih, nggak setuju Kak Nina jadi kakak iparku"
Mita kemudian balas kerlingan tajam sang kakak. Dia tidak peduli. Yang jelas Ares tidak boleh menikahi Karenina, perempuan yang telah berselingkuh dengan papa temannya.
Steak tenderloin di depannya tak lagi menggugah selera. Padahal dimasak oleh chef langganan orang tua mereka. Mamanya yang menyiapkan menu karena tahu Ares akan pulang, sebagai ... sogokan? Mungkin saja begitu, pikir Ares.
"Kapan-kapan kita undang Nina ke rumah. Kita makan malam bersama seperti dulu lagi. Ayolah, Res. Nina itu perfect jadi pasangan kamu. Apalagi keluarganya yang sudah terkenal di ranah publik. Kamu tahu, menikah dengan Nina akan membuat popularitas Papa jadi naik." Widyawati lebih persuasif.
"It's complicated, Ma, Pa. Ares nggak bisa balikan sama Nina."
"Serumit apa, sih, sampai sulit balikan lagi? Kalian kan sudah tiga tahun bersama. Sudah pasti saling mengerti." Dadang tidak terima, terdengar dari nadanya bicara.
Dengkusan kecil anak sulung mereka mengernyitkan kening kedua orang tuanya. Saling mengerti? Dita saja yang baru mengenalnya empat bulan sudah mengerti betapa dia mencintai pekerjaannya.
"Yang aku tahu, Nina sudah punya kekasih baru," ucapannya setipis es, rapuh dan terdengar pilu. Kenapa tidak ada satu pun yang menunjukkan empati padanya?
“Atau apa perlu kita libur bareng dengan Nina ke Turki?" Dadang bahkan tidak perlu menggubris apa yang Ares katakan.
"Pa, sudah Ares bilang, Nina sudah punya kekasih baru."
"Papa bisa bicara dengan Bang Elizar. Lagi pula kami sudah lama tidak ngopi bareng."
Ares lelah tidak pernah 'didengar' oleh kedua orang tuanya.
"Pa! Jangan libatkan orang tuanya." Susah payah Ares meredam emosinya.
"Tapi—"
"Ares pikir berpisah adalah keputusan terbaik. Dan Ares sedang tidak mau berhubungan dengan siapa pun saat ini." Ares berkata dengan tegas, walaupun tahu Dadang dan Widyawati tetap akan menganggap perkataannya seperti angin lalu.