"BOBY!"
Tergopoh-gopoh Boby masuk ke dapur. Hanya satu orang yang akan meneriaki Boby seperti itu. Dia Ares, bos besar The Leisure Treasure Bakery. Tapi Boby tidak pernah tersinggung, apalagi marah. Karena dia tahu, bosnya tidak pernah bermaksud jengkel. Berteriak hanya cara Ares meminta tolong untuk mengambilkan ponselnya. Ares memang begitu. Harap maklum.
Kedua tangan Ares sedang bersarung tangan karet, berlumuran minyak dari mentega dan coklat karena mencelup kroisan ke dalam mangkok stainless steel besar berisi coklat cair. Itu sebabnya dia berteriak memanggil Boby.
"Mas, ada telepon dari ...." Mengernyit kening Boby dibuatnya. Bagaimana tidak? Penelpon yang tertera bernama 'Gadis Penipu Cengeng'.
"Siapa yang nelepon, Bob?"
"Ini, Mas." Cari aman, Boby sodorkan saja ponsel itu. Biar bosnya sendiri yang membaca.
Bos dan karyawannya lirik-lirikan canggung penuh arti. Tapi melihat wajah Boby datar-datar saja, Ares menyuruhnya menggeser tombol hijau tanpa banyak komentar. Boby dengan tenang menempelkan ponsel itu ke telinga Ares.
"Ya?"
"Mas, kok nggak baca pesan saya?" todong Dita tanpa ba bi bu.
"Saya sibuk di dapur. Ada apa?" tanya Ares to the point juga.
"Ooh. Oke-oke. Maaf ganggu." Dita jadi merasa bersalah. "Nanti saya telepon balik. Saya tutup—"
"Maple sakit?" sela Ares cepat-cepat. Ares jadi ingat telepon Dita tempo hari. Dia tidak mau ketinggalan informasi apapun soal Maple.
"Bukan Maple. Saya lagi di pasar tradisional mau belanja. Mas mau makan apa nanti malam?"
Diam-diam Ares menghela napas lega. Bukan Maple yang menjadi alasan. Kalau ditawarkan begini, Ares justru berpikir serius mau makan apa nanti malam. Semenjak lidahnya menyentuh masakan Dita beberapa hari ini, sepertinya muncul rasa candu untuk mengecap lagi bumbu racikan Dita yang lain.
"Hmm, kamu bisa masakin nasi liwet?"
"Bisa. Sebentar, saya ambil kertas sama pena. Lauknya mau apa?"
"Ikan goreng gurame. Is it okay?"
"Amaaan. Sambalnya?"
"Hm ... sambal matah."
"Sayurnya suka apa?"
"Cah kangkung, deh."
"Oke. Mau tahu tempe?"
"Boleh."
"Buat besok pagi mau sarapan apa, Mas? Biar saya sekalian belanja."
"Nasi goreng aja," ucap Ares cepat. Dia tidak ingin merepotkan Dita lebih banyak, sebab Ares tahu Dita bakal repot masak untuk malam ini.
"Kalau gitu saya tutup, Mas. Mau belanja dulu."
"Tunggu-tunggu!" Ares merasa ada yang kurang. "Sama siapa belanjanya?"
"Sendiri. Sama siapa lagi?"
"Saya kirim asisten saya untuk temenin kamu."
Dita malah terkekeh. "Nggak perlu. Dikit ini. Udah ah, Mas. Entar pasarnya tutup."
"Maka—" Klik. "sih." Keburu ditutup, Ares. Dita tidak akan mendengarnya.
"Udah, Bob. Thanks."
"Sama-sama, Mas. Jadi nih, saya pergi temenin ... ng .. itu, yang di telepon barusan?"
"Nggak perlu."
"Kalau gitu saya pergi ke toko Madam, Mas. Katanya pesanan coklat sama tepung Jepang sudah datang. Sama loyang baru."
"Ya. Hati-hati."
"Baik, Mas."
"Kapan terakhir kali aku makan nasi liwet, ya?" gumam Ares setelah kepergian Boby. Tangannya cekatan mencelup kroisan demi kroisan ke dalam lelehan coklat mengkilat.
"Seharusnya aku pesan ikan asin."
"Nasi liwet emang temennya ikan asin jambal roti, sih, Mas," celetuk Sandy tiba-tiba.