Sulit bagi Dita menahan haru ketika orang tua satu-satunya tidak datang menghadiri wisudanya sendiri. Hatinya terenyuh pedih ketika menyaksikan orang tua teman-temannya menitikkan air mata bangga saat tali toga anak-anak mereka dipindahkan oleh dekan fakultas.
Lalu, siapa yang akan melihatnya dengan bangga memakai toga dan menenteng map ijazah? Kepada siapa Dita banggakan kesarjanaannya yang dia raih dengan penuh perjuangan di antara kuliah dan mengais rupiah? Apa Safarina tidak mau melihat putrinya jadi sarjana?
Selagi menikmati kepedihan dan kebingungan tak berkesudahan di tengah kebahagiaan senyum para keluarga undangan, Dita menemukan pria yang tadi pagi bermandi peluh sedang meninju angin di ruang olahraganya duduk tenang di tengah kursi keluarga. Pria itu kini memakai setelan formal, membuat ketampanannya naik beberapa ratus kali lipat. Selama beberapa detik mereka sempat bertemu pandang dan saling menatap. Namun, Dita cepat-cepat berpaling demi meredam degup jantungnya yang meliar setiap kali mata mereka bertemu. Ciuman malam itu terus terngiang dalam kepalanya. Walaupun baru pertama kali mencoba, Dita tahu rasa baru itu akan selalu membuatnya rindu.
Dasar ciuman manis sialan!
Gadis itu kegerahan.
***
"Ditaaa. Sini foto sama gue," ajak Yayang.
Sebenarnya dia ingin pulang sesegera mungkin. Lelah hati melihat tawa riang teman-temannya dikerubungi keluarga tercinta. Karena Dita memang tidak sanggup terus-terusan berada di atmosfer kebahagiaan ini. Membuat dadanya sesak saja. Jadi, untuk apa berlama-lama di kampus, kan? Dita iri, okay? Namun, pada akhirnya Dita menurut. Dua puluh kali jepret dan selesai.
"Yang, habis ini gue pulang, ya."
Mengernyit seketika kening Yayang. "Lho, kok gitu? Sama gue aja dulu. Kan Tante Rina lagi di luar kota."
Sebuah kebohongan yang sempurna, sampai-sampai Yayang tidak menaruh curiga mengapa Safarina tidak datang ke acara besar Dita. Safarina … bagai hilang ditelan bumi tanpa bisa dihubungi.
"Tapi, Yang—"
"Bapak pengen kita makan di Ikan Bakar Cianjur, Dit," sela Yayang memohon.
Kali ini Dita memaksakan diri tersenyum, menutupi getir yang makin membengkak di dadanya. "Lain kali, ya, Yang. Kirim salam sama Bapak dan Ibuk."
Tahu-tahu Dita dihadiahi pelukan erat tanpa kata dari sahabatnya.
"Gue tahu kok, pasti berat buat lo nggak ada Tante Rina di sini. Tante Rina sekarang kerja buat kalian. Sabar, ya, Dit. Gue yakin lo pasti kuat." Lagi-lagi kebohongan yang lain. Air mata yang tak seharusnya keluar kini mengalir tanpa bisa dicegah.
"Thanks, Yang."
"Pokoknya kita harus keep in touch. Walaupun kita bakal jauhan, tapi pliiis, lo nggak boleh hilang kontak, Dit. Kita harus terus saling kasih kabar, walaupun cuma dua kali sehari in 24/7."
Dita terkekeh. Lega rasanya dia masih bisa tertawa. "Kayak orang pacaran aja, Yang."
Yayang melepaskan pelukannya. Seberkas air mata dia tangkap dari pipi sahabatnya. "Beda atuh, Dit." Yayang men-tap tisu pada jejak air mata di pipi Dita dengan hati-hati agar makeup-nya tetap pada tempatnya. "Kalau orang pacaran kasih kabar kayak makan nasi. Minimal tiga kali sehari. Kalau kita minimal 2 kali sehari, ya." Senyum mengambang di sendunya Dita.
"Siap, calon Bu Dosen." Yayang akan pergi darinya demi melanjutkan S2 di Malaysia. Dita-benar-benar sendiri.
Dita duduk sendirian, menatap sendu map ijazah, bunga wisuda pemberian Yayang, dan memijit kaki pegalnya karena diajak berjalan dengan sendal berhak yang hanya lima senti. Bagaimana tidak pegal, sehari-hari kakinya Dita hanya berteman dengan sepatu kets dan sandal rumah. Jangan lupakan matanya terasa sembab. Dia harus pulang. Tidak nyaman memakai kebaya nikahannya empat bulan lalu seharian. Hanya itu pakaian layak yang bisa dipakai di hari spesial ini.
"Ibuk Aphrodita Diana Saraswati, SE. Ngapain bengong?"
Dita sampai tidak berkedip dibuatnya ketika seorang bidadari cantik berkebaya merah marun menjulang tinggi di atasnya. Rambut panjangnya disanggul ala-ala messy bun membuat Mita manglingi. Dari tadi dia hanya bisa melihat dari kejauhan tanpa bisa mendekati adik Ares itu. Sebab, kalau bukan Mita selalu dikerubungi oleh teman-temannya, dia akan ditemani Ares. Dita tidak mau berdekatan dengan si Tukang Roti itu hari ini. Jantungnya suka berdesir tanpa perintahnya.
"Selamat buat kitaaa." Mereka saling berpelukan dan tertawa riang.
"Iya, selamat buat kita. Dan selamat datang dunia kerja," sambung Dita.
"Emang lo nggak niat lanjut S2?" kata Mita selepas mengurai pelukan.