The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #30

28. The Dawn Is Rising

Pukul 06.30, Dita tiba di sebuah kafe tempatnya mendulang rezeki. Pekerjaannya sudah menanti karena sebuah mobil pick up hitam juga baru sampai membawa bahan makanan dari pasar.

Mematut diri sendiri di depan cermin toilet adalah sebuah keharusan sebelum memulai hari. Seragam, celemek, topi, melekat pas di setiap bagian tubuhnya. Jangan sampai ada sehelai rambut pun keluar dari ikatannya hari ini.

"Dita, tolong angkat barang di belakang, ya. Si Coki belum datang juga dia? Ke mana sih tuh anak? Perasaan dia telat terus."

Pagi-pagi Aria sudah ngomel. Perempuan cantik 28 tahun itu adalah pemilik Kapulaga, sebuah kafe dan restoran yang telah menerimanya tiga bulan yang lalu. Oh, jangan tanyakan kehidupannya tiga bulan pertama setelah bercerai. Siapa pun yang melihat cara Dita bertahan hidup pasti akan menggalang dana di akun kitabisadotkom.

Tapi Dita amat bersyukur masih bisa melewati hari-hari penuh cobaan setelah bercerai enam bulan yang lalu. Lihatlah sekarang. Dita sudah bekerja! Itu yang penting.

"Oke, Mbak,” sahut Dita tanpa mengeluh 

Sudah terlatih otot-otot lengan Dita untuk angkat beban berat. Galon, karung tepung, karung beras, karung kopi. Berkilo-kilo gula? Kecil bagi Dita. Semua demi bertahan hidup, walaupun tidak mudah pada awalnya setelah menjalani hidup nyaman selama 4 bulan di apartemen mewah milik mantan suaminya.

Ugh! Setiap kali frasa mantan suami muncul di kepalanya, jantung Dita selalu berdebar-debar tak keruan dan itu di luar kendalinya. Sungguh. Enam bulan telah berlalu tanpa komunikasi, tanpa pernah bertemu, tapi bayangan pemilik toko roti itu tidak mau benar-benar hilang dari kepalanya. Apalagi setelah pria itu meninggalkan jejaknya di bibirnya. Pasti ada yang salah dengan otaknya. Ah, sudahlah. Lupakan, Dita.

Kembali ke Coki, nama yang Arisa sebut tadi. Coki adalah manusia paling pemalas yang pernah Dita temui. Tapi Aria tidak mau dan tidak bisa memecat Coki karena dia adalah seorang tukang masak andalan Kapulaga. Dia benci dengan fakta bahwa pria itu juga sepupu berbakatnya.

Sebagai pekerja paruh waktu, beberapa rangkap pekerjaan Dita lakoni. Helper dapur, waiter di meja pelanggan, hingga menjaga kebersihan meja, lantai, ruangan, hingga taman. Apa gaji yang diterimanya setara dengan beban kerjanya? Jawabannya tidak. Tapi Dita masih bersyukur masih bisa hidup dengan gaji itu.

"Dita, tolong itu di depan ada kucing. Usir aja. Buang ke mana, kek. Mereka berisik tiap ada pelanggan kita yang lewatin mereka. Mana mereka nyelonong aja masuk ke dalam," gerutu bosnya.

"Ehm, baik Mbak Aria," jawab Dita lemas. Mereka anak-anak kucingnya Dita. Ditalah yang memberi makan mereka selama ini. Demi Tuhan. Dua kucing itu masih kecil. Mungkin baru tiga bulan mereka menghirup udara penuh polusi dan kejamnya dunia. Kok mirip kisahnya Dita, ya?

Terpaksa, Mylo dan Denkaw harus Dita pindahkan jauh dari kafe. Sebuah kardus dan makanan kucing yang tadi dia persiapkan sudah di tangan.

Suara mesin yang memekak datang dengan segala emisi gas buangannya dari sebuah skuter klasik asal Italia sampai ke gendang telinga Dita. Coki tersenyum lebar saat berpapasan dengannya.

Lihat selengkapnya