Ares mematung di depan pintu huniannya karena pikirannya dengan telah kurang ajar mengkhayalkan harum apa yang akan dia hidu ketika masuk nanti. Tapi saat itu juga Ares langsung dihempas kenyataan, bahwa tidak akan ada bau apa-apa selain pengharum reed diffuser-nya yang beraroma vanila.
"Haaah."
Daripada dicap pria aneh yang hanya berdiri diam di depan pintu oleh penghuni lain, Ares cepat-cepat masuk.
"Miauw," sambut si bulu lembut di depan pintu.
"Maple anak Papa."
Ya, ada Maple. Orang lain boleh datang dan pergi, tapi tidak dengan Maple. Dia akan selalu ada untuknya. Ares mengubek-ubek bulu Maple gemas. Maple tentu kesenangan dan mendengkur makin keras.
Sudah berapa bulan dia seperti ini? Ada kehampaan aneh yang menyerang setiap kali Ares pulang ke huniannya. Sudah bertahun-tahun dia tinggal sendiri di apartemen ini. Ada Maple tentu saja. Tapi, sejak bertambahnya satu penghuni ... demi Tuhan. Hanya satu orang tapi benar-benar membuat perbedaan besar dalam hidupnya.
Tiba-tiba Maple melepaskan diri dari serangan kasih sayang Ares. Dia melompat dari gendongan tuannya dan berjalan ke depan kamar tamu. Kucing itu mengeong ke pintu.
"Maple. Kamar itu kosong. Kamu sudah tahu itu."
"Miauw."
Ares terenyuh. Ngeongan Maple amat lirih dan matanya menatap sayu pintu yang tertutup itu.
"Maple," ucap Ares lelah. "Dia sudah pergi. Like, months ago. Dia nggak akan kembali."
Kucing gemuk itu malah tidur melingkarkan tubuhnya di keset kaki membelakangi tuannya. Seakan menolak mendengar kata-kata Ares. Maple ngambek lagi.
Selalu begitu. Maple akan mengeong pada tuannya setiap Ares pulang dan menjambangi keset kaki kamar dimana mantan istrinya tidur. Jadinya Ares meletakkan keset kaki empuk dan tebal agar Maple bisa nyaman 'bersedih' di sana. Maple telah kehilangan teman lari-lariannya. Dan Ares kehilangan seorang gadis cengeng yang pintar memasak, teman sarapan dan teman mengobrol setelah makan malam.
Lalu kalau merasa kehilangan, mengapa bercerai, Aresta?
Begitu banyak pertimbangan Ares untuk mengucapkan kata talak waktu itu meski dia tergoda untuk mempertahankan pernikahan gadungannya. Yang paling mendasar dan Ares tidak akan membantah untuk alasan ini : tidak ada cinta di antara mereka berdua.
Ares masuk ke ruangan tempat samsaknya tergantung. Dia ingin melepas beban pikiran yang menggelayuti kepalanya seharian ini. Tanpa berganti pakaian, dia melilit kedua tangan dengan hand wrap putih, kemudian memasang kuda-kuda hendak melawan samsak. Demi Tuhan. Mereka menikah bukan karena saling suka, saling cinta, saling sayang. Untuk apa mempertahankan pernikahan kalau tidak ada itu semua?
Bugh. Satu pukulan keras menghantam samsak yang malang. Kemudian bahunya melorot tajam dan dijatuhkannya saja kedua tangannya lemas. Ada apa dengannya? Kenapa dia tidak bisa melupakan bibir merah muda itu? Kenapa dia tidak bisa melupakan … Dita?
Jab kanan. Pukulan cross kiri. Ganti posisi kaki. Ares mengulang gerakan yang sama beberapa kali.
Melepaskan uneg-uneg yang tak terucap memang lebih menyenangkan dengan menghantam samsak di ruangan olahraganya. Bahkan ketika jarum pendek jam dindingnya sudah berada di angka 12.
Sebentar lagi saja, pikir Ares. Pria itu menepuk-nepuk kedua tangannya demi mengumpulkan tenaga dan adrenalin. Napasnya memburu. Namun, Ares masih belum puas. Ingatannya kembali ke ruang tamu, di atas sofa hitam bersejarah itu.
Ares mengiyakan permintaan gadis itu untuk bercerai. Kata talak langsung terucap tanpa ragu, tanpa terbata-bata dan penuh keyakinan. Detik itu juga mereka resmi menjadi janda dan duda. Yeah. Duda. Betapa menggelikan. Pria itu meringis sambil melempar jab dan cross menyilang.
Setelah tubuhnya cukup lelah, Ares memutuskan berhenti. Kemudian dia tidur dalam keadaan letih dan semua masa lalu itu akan terlupakan keesokan pagi. Begini cara Ares me-reset pikirannya agar besok dia terbangun dalam keadaan segar tanpa ingatan akan dia. And it works all the time.
***