The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #32

30. What A Freaking Nice Life

"Bila kriteria dan spesifikasi Anda cocok dengan profil The Leisure Treasure Bakery, pemberitahuan diterima atau tidak, akan disampaikan melalui e-mail. Terima kasih."

Itu adalah kalimat pamungkas yang telah Ares ulang untuk yang ke-20 kali hari ini seperti kaset rusak kepada pelamar pengganti Boby, tapi sampai detik ini, belum ada yang menyamai kualifikasi Boby. Sepertinya dia harus membuka informasi lowongan baru.

"Gimana, Mas? Ketemu yang oke?" tanya Sandy sesaat setelah Ares masuk ke dapur. Jangan lupakan wajah lelah bosnya. Sekali lihat Sandy sudah tahu jawabannya.

"Belum. Mereka kelihatan lembek."

"Kalau Mas carinya yang persis kayak Boby ya, susah Mas."

"Tapi bukannya nggak mungkin, kan?"

"Iya, sih."

"Timer roti sourdough udah bunyi, San?"

"Belum. Nah itu bunyi."

"Itu bunyi ponsel saya, Sandy," balas Ares datar. Sandy mengangkat kedua tangannya yang berlumuran tepung ke udara dan menyeringai.

"Ya, Mike?" jawab Ares pada ponselnya.

Gue mau ingetin lo biar nggak lupa.”

About?

Ah elah. We’re going to meet up with the others. At Kapulaga. Remember?” tanya Mike dengan bahasa Indonesianya yang patah-patah. Papa Mike dari Texas, sedangkan mamanya dari Medan, maka lahirlah seorang anak campuran ini.

Ares terkekeh. “Yeah. Thanks udah ingetin gue. I almost forgot about it.”

Lalu Mike mulai mengoceh betapa enaknya kopi di kafe itu. Dia berniat membeli biji kopinya ke petaninya langsung. 

Pria itu menghembuskan nafasnya pelan. Sejujurnya Ares merasa ganjil setiap kali ngumpul bareng sahabat-sahabatnya semenjak dia selalu pulang tepat waktu 6 bulan yang lalu. Dita telah membuat Ares memahami makna ‘rumah’ yang sebenarnya. Rumah adalah tempat pulang jika ada Dita di dalamnya. Tanpa Dita, rumahnya kosong bersama dengan hatinya. Ares berharap bertemu sahabat-sahabatnya dapat mengisi kekosongan itu.

Nah, gue pikir The Lounge butuh ngembangin resep kopi kayak gini, Res.”

"Ya, ya. Itu … ide lo terdengar oke.” Sejujurnya Ares tidak menangkap dengan jelas ide-ide Mike. “I’ll wrap up in the kitchen first. I’ll see you guys at ten," tutup Ares segera.

Setelah menyudahi telepon tadi, Sandy memperhatikan kelakuan bosnya diam-diam sambil memelintir adonan roti. Sepertinya jiwa bosnya melayang sepersekian detik karena akan membawa adonan sourdough di dalam banneton—keranjang rotan tempat proofing si adonan sourdough—kembali ke ruang oven. Kan Ares yang membawa banneton itu ke ruang preparasi untuk di-scoring.

"Setop, Mas!" teriak Sandy.

"Apa? Apa?" Ares ikut panik.

"Itu adonan kenapa dibawa lagi?"

Mata bingungnya mengikuti telunjuk Sandy yang mengarah pada banneton di tangannya. Ares malah tergelak sendiri dan mengusap tengkuknya. Malu. Untuk pertama kalinya Ares, seorang chef profesional melakukan kesalahan konyol.

"Aku benar-benar butuh ngopi sama mereka," kekeh Ares. 

Lihat selengkapnya