The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #33

31. Drama Queen

"Mike! Lo bisa pastiin tas itu asli atau palsu sekarang juga?" desak Ares.

"Sure. That shouldn’t be difficult. Why?" Alis tebal si blasteran hampir menyatu.

"Buat apa, Res?" Indra ikutan penasaran.

"Man, lo mau apa?" Perasaan Tobi sudah tidak enak. "Jangan bilang lo mau bawa Mike ke drama opera sabun di sana?" 

"Mike, we don't have time to chitchat. Check that damn bag now!" perintah Ares.

Mike dengan ringan mengiyakan kemauan Ares. Dua pria itu pergi meninggalkan Indra dan Tobi dengan kepala penuh tanda tanya.

***

Tamparan itu membuat telinganya berdenging selama beberapa detik. Matanya memicing spontan. Tak pelak setetes dua tetes bening bukti sakitnya hasil tamparan itu lolos juga dari sudut matanya. Dita meringis membekap pipi kanannya, seakan sedang melindungi barang rapuh. Panas membakar mulai menjalar di bekas tamparan. Denyut nyeri mulai muncul dan rasa anyir mulai menyentuh indra perasanya pertanda ada luka di pipi bagian dalam mulutnya.

Pipinya berdenyut sakit, tapi hatinya jauh lebih sakit. Dita memang miskin, tapi orang miskin bukan tempat untuk diinjak harga dirinya. Baiklah. Memang benar dulu dia pernah berbohong agar sebuah pernikahan terjadi demi mahar yang tidak tahu rimbanya di tangan sang Mama. Namun, setelah bercerai dia bertekad tidak akan pernah melakukan hal hina dina seperti itu lagi. Sungguh pelajaran yang amat berharga! Jadi kali ini dia akan mempertahankan harga dirinya hingga titik darah penghabisan!

Gadis itu maju dalam satu langkah dengan mantap, menantang perempuan cantik yang menamparnya tadi. Bahkan dada mereka saling menempel. Tidak peduli dengan perbedaan tinggi yang mencolok. Dita hanya sedagu perempuan itu. 

Belalak membara si waitress membuat bola mata perempuan itu bergetar takut sepersekian detik. Tapi yang ditantang tidak mau mundur. Tas mahalnya lebih penting daripada apa pun!

"Saya udah bilang. Bukan saya yang numpahin minumannya. Gimana sih, Mbak?"

"Rin, beneran dia yang nyenggol gelas lo?" bisik temannya takut-takut.

"Kalau bukan dia siapa lagi? Dia yang berdiri dekat gue kok dari tadi. Awas jangan nempel-nempel!"

Dorongan kuat di bahunya tak menggentarkan Dita untuk tetap berpijak di kakinya. Tamparan tadi membuat adrenalinnya memuncak. Jantungnya berdentam kencang. Dita tidak takut apa pun malam ini!

"Mbak jangan asal ngomong. Cantik tapi minus attitude! Saya nggak nyenggol gelas Mbak."

"Sialan nih cewek. Nggak mau ngaku, hah?! Bilang aja nggak sanggup ganti." Perempuan itu kembali melayangkan tangannya hendak menampar waitress yang keras kepala.

Dita pikir dia akan mendapatkan tamparan kedua. Nyatanya, tangan si pelanggan rese tertahan di udara, dicengkeram oleh tangan lain dari belakangnya. Sebentar, wangi ini …. Dita mengenalnya.

"Si-siapa kamu?" Perempuan itu terperanjat. Apa karena yang menggenggam tangannya seorang tampan rupawan?

Dita lebih kaget lagi saat menoleh ke belakang. "Am I … dreaming?

Ares terkekeh dengan respons gadisnya. "Mike," kode Ares. Mike mengangguk dan tas yang menyebabkan pertikaian itu berpindah ke tangannya.

"HEY! Tas saya!"

"Sebentar, ya, Mbak. Saya boleh cek kerusakan tasnya, ya?"

Lihat selengkapnya