The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #34

32. Longing For You

Perdebatan tak berkesudahan tadi berlanjut. Hanya pindah tempat saja ke kantor Aria. Ares dan Mike berdiri di belakang Dita. Teman si pemilik tas berdiri tak jauh dari Ririn Sedangkan Dita, Ririn si Drama Queen, dan Aria duduk di sofa. Coki bersandar di meja kerja Aria, mengamati semuanya dari sana.

Omong kosong macam apa ini? Mengapa pemilik kafe terus-terusan memojokkan Dita? Tidak bisa dibiarkan! Baru maju selangkah, Ares ditahan lengannya oleh Mike.

"Res, jangan," bisik Mike sangat lirih. Dari sudut mata, dia sudah menduga Ares tidak tahan ingin protes. Mike tahu ada yang tidak beres dengan pemilik kafe. Tapi itu adalah urusan internal kafe, bukan mereka.

Coki memutuskan mengajak Ares dan Mike karena mereka berada di TKP. Setidaknya Coki tahu, dua pria itu membela temannya.

"Tapi saya bersumpah tidak menyinggung gelas Mbak Ririn," ucap Dita bersungguh-sungguh. "Bukan salah saya tas mahalnya tersiram macchiato."

"Jelas-jelas kamu yang ada di samping saya."

"Apa tidak ada CCTV?" Akhirnya. Ares tak tahan ingin ikut bicara.

"CCTV kami sudah beberapa hari ini sedang dalam maintenance." Coki yang menjawab. Ada raut wajah bersalah di sana. Ririn tersenyum mengejek membuat Ares tidak tahan.

"Mike, jadi apa penilaian lo tentang tas perempuan ini?!" buru Ares. 

Semua mata tertuju pada si setengah bule.

"Sorry to say, tas Anda palsu.”

“Nggak mungkin palsu.” Ririn tidak terima. “Saya beli di reseller resmi.”

Mike tersenyum manis. “Saya bisa tahu dari jahitannya yang kurang rapi dan tidak presisi. Tas Anda memang kulit, tapi mutu kulitnya ….” Mike menggeleng pelan. “Bau kulitnya, by the way, nggak premium. I can recognize the smell of premium leather, ” tutup Mike dengan senyum semringah.

“Rin, kan elo belinya baru, delapan juta. Masa palsu?”

“Delapan juta? Baru?” kekeh Mike. “Bahkan untuk preloved, tipe flap bag yang ini nggak akan dijual semurah itu, Mbak.”

“Delapan juta kamu bilang murah?” Ririn histeris tak percaya dengan pendengarannya.

That's your problem, Miss.” Mike tidak kelihatan peduli.

Ares maju satu langkah sehingga dia benar-benar berdiri di belakang Dita. “The point is, Anda sudah menuduh orang lain gara-gara tas KW itu. Anda nggak berhak merendahkan dan menampar siapa pun, meski dia seorang waitress, mau tas Anda benar-benar asli. Minta maaf pada Nona Dita," perintah Ares dingin dan tegas.

Seulas senyum terasa sangat menyenangkan di wajahnya yang tegang sedari tadi. Tarikan otot wajah ke kiri dan ke kanan mengubah mood-nya malam itu gara-gara Mike dan Ares. Dita kemudian berbalik dan mengucapkan terima kasih dengan tulus pada penyelamatnya yang dibalas dengan senyum tipis yang tulus dari si mantan suami

"Ya udah sih, kalau memang tasnya nggak asli. Tapi saya nggak mau minta maaf sama dia. Saya tetap minta ganti rugi buat bersihin tas ini."

"Lho, kok gitu?" protes Dita.

"Dita. Ayo minta maaf sama Mbak Ririn."

"Ari, lo apa-apaan?" protes Coki.

"Mbak Aria, kenapa Mbak nggak bela saya? Saya nggak salah!"

"Pelanggan adalah raja, Aphrodita. Ingat, itu moto Kapulaga."

"Tapi—"

Lihat selengkapnya