The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #35

33. The One Who Always Stuck In Mind

"Res, nanti malam ke rumah, ya. Kita makan malam sama temen papamu." Widyawati berjalan lambat di depan etalase kaca mengamati roti dan kue-kue fresh from the oven-nya The Leisure Treasure Bakery. Ares mengiringi sang mama di sampingnya.

"Ya."

"Eh, yang itu baru ya, Res?" Telunjuk mamanya mengarah pada cinnamon roll berkilau berbentuk cupcake.

"Iya. Mama mau?"

"Mau. Semuanya Mama ambil."

"Kiki, masukkan cinnamon roll ke kotak ukuran 12," perintah Ares ke pramuniaganya.

"Baik, Pak."

"Jangan sampai telat. Beliau kepala DPC partainya Papa."

"Iya, nanti Ares datang."

"Kue madeleine 3 lusin, Res." Kiki sigap mengambil madeleine imut itu.

"Buat apa kue-kue ini, Ma?"

"Mama mau rapat dengan yayasan. Oh ya, pakaian formal."

"Kan makan malam biasa, Ma."

"Mama mau kamu tampil lebih ganteng malam ini."

Ares mengernyitkan keningnya. "Pakai kaus oblong juga Ares masih ganteng, Ma," tutur Ares tidak peduli.

Kiki terpaksa menunduk, melipat rapat-rapat bibirnya ke dalam dan berdoa jangan sampai dia tersenyum. Pramuniaga itu merasa tidak seharusnya berada di antara percakapan pribadi ibu dan anak ini.

Widyawati malah memutar bola matanya. "Kali ini beda. Kamu tahu Juanita, Putri Pariwisata tahun lalu yang sekarang jadi ambassador UNICEF?"

"Apa Ares perlu tahu dia siapa?" jawab Ares sekenanya.

"Dia nanti malam juga datang."

Otaknya segera mencari benang merah makan malam nanti dengan si Putri Pariwisata ini.

"She's single now. You're single too, Son. Jadi kenapa tidak?"

Astaga. Widyawati sedang membicarakan jodohnya di depan Kiki? Karyawannya?

"Ada lagi yang mau Mama pilih?"

Mamanya salah tempat untuk membicarakan masalah pribadi di depan anak buahnya. Dia hanya ingin mamanya cepat pergi.

"Americano dingin 12 cup. Itu saja."

Lihat selengkapnya