The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #36

34. How To Pay Off Debt

Dita mulai kembali menjalin komunikasi dengan Safarina. Dia amat lega mamanya dalam keadaan baik-baik saja. Mereka sempat bertemu sebentar saja. Saat itu, Dita langsung menagih penjelasan mengenai rumah dan mahar. Penjelasan yang didengar bikin Dita langsung migrain. Safarina berdalih menjual rumah itu karena harus membayar utang. Utang yang mana lagi? Pertanyaan itu berputar dalam benaknya seperti suara nyamuk yang mengganggu. Utang di bank kan sudah lunas oleh mahar. Di mana lagi Safarina 'menggali lubang'? Belum lagi sisa mahar hasil membayar utang juga tak tahu rimbanya. Sepercikpun tak sampai pada Dita. Kepala Dita rasanya mau pecah.

Mahar laknat itu membuat tidurnya tidak nyenyak selama beberapa bulan terakhir. Perasaan itu terus berkembang bagai kanker dan mulai mengusik nuraninya. Sepertinya ini adalah perasaan bersalah karena ikut menipu Ares. Karena bagaimanapun, kesepakatan atas nama tipu muslihat tidak pernah bisa membuat hidup Dita tenang.

"Mama di mana sekarang?" tanya Dita melalui headset-nya sambil tiduran di kasur. Dita lagi kangen berat sama satu-satunya keluarga yang dia punya.

"Mama sedang di Pekanbaru, ikut Mas Luki kerja." Dita harus menelan kecewa lagi. Lagi-lagi mamanya tidak ada di Jakarta.

"Om Luki ... baik kan sama Mama?" Tiba-tiba saja Dita ingin tahu kehidupan rumah tangga mereka. Sejauh yang Dita tahu, Luki adalah teman kuliah Safarina yang bertemu setelah sekian puluh tahun dan bekerja di bidang finansial. Hanya itu. 

"Baik. Mas Luki sayang sama Mama. Kami seperti kembali ke zaman kuliah dulu. Kencan, liburan ke mana pun Mama mau, atau menghabisakan waktu berdua saja di depan TV." Safarina terkekeh manja.

Fix mamanya memasuki usia puber kedua. Dita tergelak sendiri. Sedetik kemudian Dita tiba-tiba bermuram durja mengingat kehidupannya beberapa bulan terakhir yang mengenaskan. Dita bahagia saat tahu Safarina juga bahagia, tapi apa mamanya tidak pernah berencana memasukkan putrinya ke dalam kebahagiaan mereka? Atau, Safarina tidak lagi peduli padanya? 

"Ngomong-ngomong transferan Mama udah masuk, kan?" Seketika senyum Dita mengembang. Untuk ketiga kalinya dia mendapat kiriman uang dari Safarina. Tidak banyak, tapi cukup untuk kebutuhan sehari-hari selama satu bulan. Kalian boleh memaki-maki Dita seorang hipokrit. Diberi uang langsung terbang melayang. Lupa dengan kesedihannya barusan. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah, walaupun Dita butuh kasih sayang mamanya, tapi Dita lebih butuh uang untuk menopang hidup, untuk makan, untuk tempat tinggal. Dita juga butuh uang untuk memberi makan kucing-kucing senasib dengannya di jalanan.

"Udah. Makasih Mama sayang."

Safaria terkekeh. "Dikasih uang baru kamu sayang-sayangin Mama."

"Kan jarang dapat uang jajan dari Mama." Dita ikut tertawa kecil.

"Sekarang kerja apa kamu, Dita?"

Lihat selengkapnya