Melihat Mimi masuk ke ruangannya memeluk setumpuk amplop coklat membuat pelipisnya seketika berdenyut. Apalagi ketika amplop-amplop coklat itu jatuh di meja kerjanya.
Kapan ini akan berakhir? gerutu Ares.
Ares menyesal tidak menyewa jasa konsultan HRD untuk memilih karyawan untuknya. Lebih baik bekerja nonstop di dapur daripada memeriksa CV dan berhadapan dengan para pelamar.
"Ada berapa, Mi?"
"Lima belas, Mas."
Spontan pria itu menghenyakkan punggungnya ke sandaran kursi. Mimi tersenyum geli. "Semangat Mas Ares. Jangan kasih kendor!"
"I'm tired, Mimi."
Ares juga bosan. Ares ingin menghias cupcake. Ares ingin memotong-motong adonan kroisan yang sudah di-laminating menjadi segitiga dan menggulung dengan sempurna. Ares ingin menghidu bau roti manis yang baru keluar dari oven. Ares ingin berada di safety bunker-nya di bawah. Ares ingin .... Ah, sudahlah.
"Mimi tahu kok. Kelihatan dari wajahnya."
Ares tersenyum tidak ikhlas. "Kapan hari terakhir job vacancy kita buka, Mi?"
"Hari ini, Mas." Ares mendesah lega. "Oh, iya. Mimi tadi nemu nama Aphrodita Diana Saraswati di salah satu amplop. Kebetulan nama depannya sama atau memang dia Dita yang kita kenal?" Mimi hanya tahu nama depan Dita dari aplikasi ojek online yang pernah dia pesan.
Telinga Ares langsung sensitif ketika nama tadi disebutkan. Dadanya langsung berdebar kencang. "Nanti saya pastikan."
Selepas pintu ruangannya ditutup, yang pertama Ares lakukan adalah mencari amplop dengan nama indah tadi.
"Aphrodita Diana Saraswati." Ares mengalunkan nama Dita dengan merdu. Dengkusan kecil keluar diiringi senyum penuh arti pada wajah pria tampan itu. "Dia melamar di tempatku? Menarik."
Dan ada yang lebih menarik lagi. Alamat Dita.
"Dita pindah? Rumahnya bukan di daerah ini setahuku," gumam Ares.
Tak perlu lama-lama berpikir, Ares segera membuka amplop Dita duluan dari semua amplop yang datang. Pelamar lain tidak lagi menarik buat Ares. "Mari kita lihat, apakah gadis cengeng ini qualified menjadi asistenku atau tidak."
***
"Ya Tuhan. Ya Tuhan. Gimana ini?" kata gadis itu pada sebuah cermin kecil.
Dita mematut-matut dirinya pada cermin kecil di kamar kosnya yang hanya berukuran 2 x 3 meter. Gadis itu meneliti untuk kesekian kalinya apakah cepolan rambutnya sudah kuat? Apakah wajahnya terpoles sempurna dengan makeup tipis-tipis asal wajah tak berminyak? Apakah kemeja putih dan blazer hitam andalannya untuk melakukan wawancara kerja di beberapa perusahaan yang beruntungnya menolak Dita terus-menerus, sudah rapi?
"Yup. Semua sudah pada tempatnya. Aku siap diwawancara oleh Mas Ares," ucapnya percaya diri.
Setelah 30 menit berkendara, Dita sampai di toko roti yang harumnya sudah semerbak mewangi memanjakan rongga hidungnya. Perutnya keroncongan lagi. Padahal baru diisi dengan sepiring lontong Medan di seberang kosnya.
Baru pukul 08.00 pagi, pengunjung sudah memenuhi ruangan display. Atmosfer kesibukan The Leisure Treasure Bakery sudah terasa dan Dita ingin cepat-cepat bekerja di sini. Bukan hanya karena ingin membalas budi pada Ares, tapi toko roti ini membuatnya ingin bekerja dengan tulus dan memberikan yang terbaik dari dirinya. Dita sudah jatuh cinta dengan The Leisure Treasure Bakery sejak pertama kali menginjakkan kaki di sini.
"Lolos dulu baru wujudkan mimpi, Aphrodita!" gumam gadis itu tepat di depan pintu masuk.
***