The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #38

36. First Day

"Mulai hari ini Dita akan bekerja sebagai asisten saya sekaligus helper di dapur," seru Ares pada seluruh anak buahnya di ruang display.

Kemudian Ares memperkenalkan semua stafnya pada Dita. "Itu Ana—cake specialist, Sandy—our baker, Mimi di kasir, Dewi dan Kiki adalah pramuniaga kita. Lalu Arip, urusan bersih-bersih toko," kata Ares lugas tanpa basa basi.

"Halo semuanya. Nama saya Dita. Semoga kita semua bisa saling bekerja sama dengan baik. Mohon bimbingannya," ucap Dita percaya diri.

"Halo Mbak Dita." Ana melambaikan tangannya.

"Hai Dit," sapa Sandy.

“Mbak Diiit.” Mimi lebih gembira lagi sampai-sampai melompat kecil saking senangnya.

Dewi, Kiki, Arip ikut memberikan lambaian selamat datang pada keluarga baru The Leisure Treasure Bakery. Setelah itu, seperti tidak terjadi apa-apa. Semua kembali ke posisi masing-masing dan meninggalkan Dita dan Mimi di tengah ruangan.

"Baiklah Mbak Dita. Ikuti Mimi."

Mimi mulai menjelaskan semua yang nampak oleh sapuan mata mereka di ruang display makanan. Mulai dari etalase kue dan roti, lemari pendingin minuman kemasan, station minuman Hot & Cold yang menyediakan teh, kopi, susu segar, hingga berbagai macam smoothie, dan terakhir meja kasir yang hanya dipegang oleh satu-satunya manusia yang mempunyai otoritas untuk menguasainya: Mimi.

"Kita ke dapur, ya, Mbak Dita. Connecting door ini menghubungkan ruang display tempat customer kita belanja dengan dapur."

"Baik, Mbak.

"Permisi."

Mimi dan Dita masuk ke dapur tempat semua makanan lezat di etalase diproduksi. Dita tidak bisa tidak takjub dengan pemandangan yang dihamparkan di depan matanya. Semua sibuk dengan pekerjaan masing-masing dengan semua alat-alat baking yang selama ini hanya bisa Dita lihat di TV atau internet.

"Kami cuma mau berkunjung sebentar."

"Lama-lama juga nggak apa-apa, Dit," sahut Sandy. Tangannya sibuk menipiskan adonan cinnamon roll, tapi mulutnya tetap aktif 'beraktifitas'. "Dit, semoga betah ya sama si bos. Dia kadang-kadang galak. Tapi hatinya selembut buttercream, kok."

Ares memutar bola matanya dramatis. Tidak ada waktu melawan anak buahnya sekarang. Pesanan 50 kroisan sedang menunggunya.

"Yes nambah satu anggota gibah. Nanti kita gosipin si bos sama Mimi, ya, Mbak Dita," sambar Ana ramah. Tanpa merasa bersalah dia melanjutkan mencetak berbagai bentuk bulan dan bintang di fondan tipis warna kuning lemon.

Mau tak mau si bos berkacak pinggang meninggalkan kroisannya yang sedang digulung cantik.

"Masih lama, Mimi? Sepertinya kedatangan kalian sedikit mengganggu produktifitas kami."

"Satu lagi, Mas Ares.” Mimi menoleh pada si asisten. “Ini yang paling penting, Mbak Dita.” Mimi menunjuk sebuah rak khusus gawai milik Ares dan menjelaskan apa isinya. "Kamu harus selalu, SELALU standby dan berlari bila Mas Ares panggil kamu dari dapur."

"Baik, Mbak."

Lihat selengkapnya