The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #39

37. You Are Really Something

Dita sedang dalam perjalanan pulang dari menjemput bahan di Toko Madam ketika ponselnya bergetar. Nama Tukang Roti tertera di layar. Dita mesti cepat-cepat menerimanya dan mengaktifkan mode speaker. Matanya kembali ke jalan, membagi konsentrasinya pada suara Ares dan jalan.

"Ya, Pak?"

Dita,” Ares menghela napas berat. “Kenapa tiba-tiba kamu panggil saya pak, sih?

"Terus saya mesti panggil apa, Pak? Pak Ares kan sekarang atasan saya."

"I know,” jawab Ares terdengar frustasi. “Tapi saya mau kamu memanggil saya seperti … dulu. Like you used to.”

Seperti dulu. Dita menggigit bibir bawahnya menahan senyum meski tidak akan ada yang akan memperhatikannya.

"Baik, Mas Ares."

"Sounds much better, Dita." Suara Ares jauh melunak. "Anyway, tolong jemput Maple di pet spa. Saya kirim alamatnya."

"Mapeeeeel. Apa kabar Maple, Mas? Jangan bilang dia gendut lagi? Eh maksud saya, kira-kira dia masih ingat saya nggak, ya?" Terdengar kekehan kecil oleh Dita selama beberapa detik di ujung telepon.

"Maple ... Yah, saya pikir beratnya memang bertambah gara-gara …" Ares berdehem. "mungkin dia akan ingat kamu nanti. Sudah-sudah. Buktikan saja sendiri di sana. Saya tutup."

***

Tadi saja saat di pet spa, sejak Dita masih sejauh dua meter dari kandangnya, Maple sudah gelisah dan tidak berhenti menggerakkan tubuhnya. Mata Maple mengunci Dita dan terlihat jauh lebih agresif dari biasanya karena ingin menyambut si gadis yang hilang dari apartemennya. 

Rasanya Dita mau menangis saja. Dia ternyata masih diingat dan dirindukan oleh kucing gendut itu. Betul, gendut. Maple makin berisi sejak terakhir kali mereka bersama. Perutnya seperti punya kantong tambahan. Ada yang bergelayut di sana. Dita amat yakin pasti tidak ada yang mengajak Maple lari-larian di apartemen atau jalan-jalan santai di taman apartemen.

"Maple, kangen padaku?"

"Miauuuw" Dengkuran Maple makin keras walaupun masih berada dalam keranjang kucing. Mereka sedang di jalan menuju toko roti tuannya.

"Nanti aku boleh izin nggak ya, main sama kamu sebentaaar aja." Dita sampai menggertakkan giginya hingga ngilu. Dita kelewat gemas.

"Miauw."

"Jarang-jarang kan, kamu dibawa ke tokonya Mas Ares. Semoga diizinin ya, Maple."

"Miauw."

"Hehe. Good girl." 

***

"Gimana perkembangan hubungan kamu dengan Juan?"

Ya Tuhan! Kenapa pembicaraan seperti ini harus selalu di depan karyawannya? Widyawati sedang berjalan di depan etalase toko, memesan beberapa jenis roti dan kue ditemani putra sulungnya.

"Bisa nggak sih kita bicarain hal-hal semacam ini di tempat lain, Ma?" mohon Ares. Dia sudah tidak punya muka di depan anak buahnya.

"Seperti kamu yang punya waktu luang aja." Sindiran Widyawati tepat sasaran. Anaknya meringis tidak nyaman. "Kalau Mama nggak ke sini, Mama nggak akan bisa bicara serius dengan kamu."

Memangnya selama ini Mama pernah punya waktu buat aku dan Mita?

"Oke oke. Kami berteman baik."

Jawaban anaknya membuat Widyawati menegakkan punggungnya. "Teman? Res, sudah berapa bulan kalian jalan? Masak nggak ada perkembangan berarti, sih?" geram Widyawati. "Kurang apa lagi Juanita? Dia wanita sempurna untuk kamu."

Atau untuk kalian?

"Perasaan mana bisa Ares paksa, Ma?"

"Kamu itu pasti terlalu sibuk mengurus toko. Ayolah. Sering jalan sama Juan ke mana, kek. Sering telepon minimal."

Juan memang sering menghubungi Ares, tapi setelahnya, Ares justru sering melupakan eksistensi perempuan itu dalam hidupnya. Demi Tuhan. Ares masih ingin menikmati kesendiriannya. Ares … takut dikecewakan lagi.

"Ya, akan Ares usahakan." Lagi-lagi lip service yang Ares persembahkan untuk mamanya tercinta.

"Tambah madeleine 20 buah."

"Apa lagi?"

"Americano dingin 12 cup."

"Wi." Ares mengirim kode pada pramuniaganya. Dewi langsung menuju Hot & Cold station dan menyampaikan pesanan tadi.

"Oh, Mama mau itu. Mau Mama makan di jalan." 

"Wi, bungkus cheese cake terpisah."

Lihat selengkapnya