“DITA, KE RUANGAN SAYA. SEKARANG.”
Teriakan Ares dari ruangannya di lantai dua menggema sampai ke ruangan display. Dita sampai mengerem tangannya saat akan menelungkupkan kursi ke atas meja membantu Arip beres-beres setelah hari yang full dengan pelanggan.
Pemuda ceking itu tertawa kecil melihat wajah si karyawan baru yang kaget. “Tinggalin aja kursinya, Kak. Kak Dita dipanggil Mas Ares, tuh.”
Dita jadi meringis malu. “Kalau gitu aku tinggal, ya, Rip. Tugas memanggil,” kekeh Dita dan berlari ke lantai dua.
Sebelum masuk, Dita menormalkan jalan nafasnya, mengetuk pintu, lalu masuk ke ruangan pribadi Ares.
“Ada, apa, Mas?”
“Apa maksud balas budi yang kamu bilang tempo hari?” todong Ares tanpa basa basi.
Ares menyandarkan pantatnya di pinggir meja kerja dan menyilangkan kedua tangannya di dada. Tatapannya tajam mengunci gadis yang menunduk entah menatap lantai atau ujung sepatunya.
Dita tahu kok, dia sedang diperhatikan. Dita menunduk karena sedang mengumpulkan kekuatan untuk bicara jujur. Cepat atau lambat hari ini pasti akan datang, kan? Maka malam ini, Dita juga tidak akan berbasa-basi.
"Mas Ares secara nggak langsung telah membantu keluarga saya keluar dari jerat utang pada bank yang jumlah pokok dan bunganya sampai 230 juta. Berkat mahar yang pernah Mas Ares beri dulu, mama akhirnya bebas utang. Saya sangat berterima kasih untuk itu," ungkap Dita jujur.
Darah Ares menggelegak dalam hitungan detik. Kejujuran barusan terdengar sangat menyebalkan, tapi sialnya gadis itu terdengar amat tulus. Saking tulusnya, Ares tidak mampu berkata-kata. Saking jujurnya, Ares tidak bisa marah. Kepada siapa dia harus melampiaskan kemarahan ini? Pada gadis yang tatapannya seperti mata anak anjing yang sedang memohon?
Hanya pada kepalan tangan yang sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih perih, amarah itu tersalurkan. Tidak. Ares tidak mau ada emosi di dalam percakapan ini. Dia dan Dita hanyalah dua manusia yang terjebak oleh keinginan egois para orang tua mereka.
"Jadi mama kamu meminta uang mahar sebanyak itu untuk menebus utangnya?" suara Ares rendah mengancam.
"I-ia." Tiba-tiba Dita menjadi gugup.
Ares mendengkus kasar dan melempar tangannya ke udara. "Yang benar saja. Kamu memang penipu. Keluargamu memang penipu."
Tergesa-gesa Dita melangkahkan kakinya dengan lebar hingga mereka hanya berjarak setengah meter saja.
"Sa-saya minta maaf, Mas. Saya ikhlas menerima semua tuduhan Mas Ares. Saya nggak akan menyangkalnya."
"Sisa yang 20 juta, kamu pakai, kan? Tolong bilang kamu pakai untuk kamu sendiri," mohon Ares. Ares sampai mengatupkan telapak tangannya ke dada. Gigi geligi Ares saling menggeretak menahan amarah. Ares bertanya bukan tanpa alasan. Menilik betapa panjangnya daftar pekerjaan yang pernah Dita lakoni di CV Dita dalam kurun waktu hanya beberapa bulan membuktikan gadis ini bekerja amat keras untuk dirinya.
Dita … menggeleng. Kepalanya menunduk lemas.
"Nggak serupiah pun?"