The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #41

39. Honesty Confession: Kindess or Disaster

"DITAAA."

Dulu, setiap teriakan seakan mengurangi usianya beberapa tahun, membuat nyawanya terbang sepersekian detik dan kembali ke raganya dalam keadaan gemetar, takut dipecat bahkan sebelum budi Ares sempat dibalas. Tapi, tidak ada yang terjadi. Ares berteriak karena murni menginginkan Dita segera berada di hadapannya, seperti sekarang. Ajaib. Telinganya tak lagi berdenging gara-gara teriakan itu. Yang ada Dita nyaman dan terbiasa. Justru, tidak ada teriakan membuat harinya terasa kurang. 

"Ya, Mas." Dita muncul secepat kilat. Sedikit ngos-ngosan sebab baru saja membantu Arip bersih-bersih halaman. Terlalu banyak daun kering yang berjatuhan dan kebetulan Dita sedang tidak ada kerjaan.

"Ada telepon. Tolong bawa ke mari."

Dita dengan lincah menjangkau ponsel yang berdering itu dan membawanya pada Ares. 

"Mas, ada telepon dari Juanita."

"Kenapa dia suka sekali menelponku di jam sibuk begini?" Ares menggerutu. Tangannya sibuk melakukan scoring atau membuat sayatan membentuk daun dan pohon pada permukaan roti sourdough bulatnya yang siap panggang.

"Jawab dan bilang saya sedang sibuk di dapur."

"Ya?" Dita hanya mau memastikan pendengarannya tidak salah.

"Lakukan apa yang saya perintahkan, Dita."

"Ba-baik, Mas."

Sebelum menyentuh tombol hijau, Dita menarik napas dan membuangnya pelan bersiap-siap untuk siapa pun yang bernama Juanita di seberang sambungan telepon sana.

"Res. Maaf ganggu kamu pagi begini."

Gilak. Suaranya merdu, puji Dita dalam hatinya.

"Halo. Saya Dita asisten Mas Ares. Ada yang bisa saya bantu?"

"Kenapa kamu yang menerima teleponku?" Suara Juan sedikit menanjak naik.

"Saya disuruh Mas Ares karena beliau sedang sibuk di dapur, Mbak."

"Oh." Dita mendengar sedikit suara kecewa dari Juanita.

"Ada pesan untuk Mas Ares?"

"Nanti saya telepon lagi."

Lihat selengkapnya