"Sebenarnya ... waktu kita tidur di sofa ... Pak Ares cu-cuma peluk dan ci-cium-cium leher saya. Selebihnya kita beneran tidur."
"Jangan berbelit-belit, Dita!" bentak Ares.
Dita berjengit. "Ma-malam itu saya sedang datang bulan. Mama memaksa saya tutup mulut agar Pak Ares mau menikahi saya karena alasan tanggung jawab kalau-kalau saya ... ha-hamil," cicit Dita amat pelan.
"AAARGH!!!"
Teriakan Ares menggelegar mengerikan, membuat kepala gadis itu tertunduk sangat dalam, bahunya turun seturun-turunnya.
Ares mensejajarkan kepala mereka agar bisa menatap mata Dita yang bergetar ketakutan. "Ada dua hal yang paling saya benci di dunia ini," kata suara mengancam itu. "Pertama serangga. Kedua pembohong. Jadi kamu tahu, kan, kamu masuk kategori yang mana?"
Terpaan napas Ares menyapu wajah Dita, memaksanya menatap bola mata tajam itu walaupun matanya sendiri semakin panas dan pandangannya mengabur akibat desakan air mata ketakutan. Dita mengangguk pasrah.
"Kamu pikir kamu masuk kategori kedua?" Ares mendengkus, mencemooh, meremehkan si gadis cengeng. "Salah. Kamu masuk kategori pertama dan kedua. Orang-orang macam kalian seperti serangga yang membuat saya bergidik ngeri karena suka berbohong. Eksistensi kamu itu sama seperti serangga, Dita. Serangga pembohong!"
Hanya dalam dua langkah besar, Ares berjalan ke pintu. Hempasan daun pintu menyentak kesadarannya bahwa usahanya memohon maaf tidak berhasil. Bahkan pria itu tidak menyentuh uang yang dia kumpulkan dengan berhemat seperti orang gila.
"Baiklah, serangga," ucap Dita bergetar. Tangannya ikut tremor ketika mengusap kasar air matanya yang tidak mau berhenti mengalir. Tangan yang lain mengambil amplop lusuh itu dan membawanya ke dada karena menenangkan apa yang perlu ditenangkan. "Kalau kamu akhirnya dipecat, masih banyak jalan menuju Ares untuk meminta maaf dengan benar, kan? Apa yang akan terjadi, maka terjadilah."
***
"Goddammit!"
Sudah tak terhitung kali umpatan-umpatan kasar lolos dari mulutnya. Memukul setir mobil menjadi pelampiasannya. Bingung, bagaimana cara meluapkan kelebihan energi negatif ini dalam tubuhnya. Kebohongan gadis itu terasa lebih menyakitkan daripada perselingkuhan Nina dengan Rano.
Demi Tuhan. Dita telah jujur. Tapi, mengapa hatinya sakit? Mengapa kejujurannya barusan justru mengecewakannya? Apa mungkin dia terlalu berharap pada mantan istri gadungannya itu? Apa mungkin, sudut pandangnya terhadap gadis penipu dan sayang dengan kucing gemuknya telah berubah?
Mungkin iya. Empat bulan yang mengubah segalanya.