Ares keluar dari connecting door melepas penat barang sepuluh menit. Sepertinya dia butuh kopi dan beberapa madeleine atau makarun untuk mengembalikan tenaga.
Belum sampai ke Hot and Cold station, matanya menangkap si gadis cengeng sedang berjalan ke halaman parkir menuju motornya terparkir.
"Dita mau ke mana, Mi?" Ares memutuskan untuk ke meja kasir terlebih dahulu.
Mimi mendongak dari layar komputernya untuk merespons bosnya. "Dia ke pagar depan katanya. Mau lihat kucing."
"Kucing?" gumam Ares. Tapi sudut-sudut bibirnya tertarik.
"Mas, udah lama lho Mas Ares nggak ke cabang kedua." Suara Mimi menginterupsi lamunannya.
"Rencananya akhir minggu ini." Bicara ke Mimi, tapi matanya mengikuti gerakan asistennya. Dia melihat Dita mengambil sebuah kantong plastik dari dalam jok motornya. Dan benar saja, gadis itu memang menuju pagar toko. "Ada keluhan pelanggan di cabang kedua, Mi?"
"Kata Bang Irfan—manajer toko—nggak ada, Mas. Tapi Mimi baca komentar di med-sos ada yang mengeluh jam buka toko nggak konsisten. Kadang mundur sejam, kadang setengah jam. Terus rasa beberapa dessert nggak sama dengan toko kita."
Mimi itu selain berada di posisi kasir, dia juga merangkap sebagai admin media sosial. Soal pantau-memantau apa yang terjadi di dunia maya? Serahkan pada Mimi.
Penjelasan Mimi membuat Ares terpaksa memutus kontak dari Dita. Padahal dia ingin menyegarkan matanya dengan memperhatikan apa yang gadis itu lakukan di sana.
"Kelamaan nggak saya kunjungi, ini. Thanks Mi, sudah info ke saya."
"Sama-sama, Mas."
Sampai di ruangannya, bukannya menikmati kopi dan teman-temannya yang Ares bawa dan letakkan di meja kerjanya, Ares malah berjalan ke jendela. Dia kembali memperhatikan gadis yang sedang berjongkok mengelus punggung seekor anak kucing. Walaupun semua hal tampak mengecil bila diamati dari lantai dua, tapi Ares masih bisa melihatnya dengan jelas. Gadis itu sedang menuang seonggok makanan kering di bawah pohon bugenvil yang sedang mekar bunganya. Cukup adem untuk tempat bernaung si makhluk kecil dan … gadisnya.
“Gadis seperti ini yang ingin aku benci?” gumam Ares tidak pada siapa-siapa. Masalahnya dia belum bisa menerima maafnya begitu saja. Dia masih ... kecewa.
Keasyikannya menonton Dita terusik oleh seseorang bertubuh tinggi dan berkulit gelap menyentuh bahu Dita. Dan yang lebih parah dan membuat hatinya bergejolak ingin membakar pohon bugenvil milik taman The Leisure Treasure Bakery adalah gesture yang Dita perlihatkan. Gadis itu terlihat gembira. Mereka berbincang-bincang sebentar, tersenyum atau tertawa, Ares tak begitu yakin, dan pada akhirnya berjalan beriringan memasuki tokonya sendiri. Siapa pria itu? Mereka tampak akrab. Tapi, untuk apa Dita akrab dengan laki-laki tinggi, besar, dan menakutkan seperti tadi?
"Lebih baik aku turun, memastikan pria tadi tidak akan melukai Dita atau berbuat onar di tokoku!"
***
"Hai, Aphrodita."
Betapa terkejut Dita oleh siapa yang menepuk pundaknya di siang bolong begini. Sosok tinggi menjulang di atas Dita tersenyum memamerkan giginya yang putih. Sangat kontras dengan kulit tembaganya yang mengkilat terkena sinar matahari.
"Bang Glen!" Segera Dita bangkit untuk sedikit menyamai tinggi. Glen terlalu jangkung! Atau Dita yang kependekan?
"Yep, It's me," kekeh Glen sambil menyalami Dita.
"Bang Glen masih ingat saya?" Tentu saja Dita bertanya demikian. Sudah setahun lebih mereka tidak berjumpa. Tapi pria Indonesia timur ini masih mengingatnya!
"Tentu, Aphrodita. Siapa yang bisa melupakan tour guide yang ramah dan cantik seperti kamu?"
Dita mengabaikan salah tingkahnya dengan pertanyaan lain."Bang Glen ada proyek lagi di sini?"
"Hm. Begitulah. Kamu .…" Glen menyapu pandangannya pada Dita dari atas kepala sampai sepatu. "nggak ngojek lagi?"
"Saya kerja di sini," ujar Dita dengan bangga. Glen tersenyum ikut memberi apresiasi.
"Good. Kalau gitu, tolong pandu saya. Saya selalu bingung mesti pilih apa setiap kali ke toko roti ini. Kecuali kroisannya. I'm craving the croissant sejak mendarat di Bandara Soetta."
Mimi sampai ternganga dibuatnya ketika sosok tinggi, berkulit gelap, dan memiliki senyum super ramah masuk ke toko sedang berbincang akrab dengan Dita. Mulai dari memilih roti dan dessert sampai mereka tiba di depan meja kasir.
"You know what, Aphrodita, kamu harus makan dengan saya kali ini," katanya pada si mantan tour guide-nya dulu yang berdiri di sisinya.
"Seratus tujuh puluh lima ribu," ucap Mimi. Glen langsung menyerahkan dua lembar uang pecahan seratus ribu.
"Wah, jangan Bang Glen. Saya lagi kerja," tolak Dita.
"Ini kembaliannya. Terima kasih telah berbelanja di The Leisure Treasure Bakery," ucap Mimi ramah. Tapi matanya bergantian melihat interaksi Dita dan Glen sambil mengulum senyum.
"Ayolah. Waktu itu kalau bukan karena kita sudah capek keliling Jakarta sampai malam, saya akan ajak kamu makan malam, Aphrodita. Properly. "
"Dita. Panggil saya Dita, Bang Glen," koreksi Dita.
"Apa yang salah dengan Aphrodita? Makna nama kamu sesuai dengan sosok yang menyandang nama itu di mitologi Yunani. Aphrodite adalah Dewi Cinta dan Kecantikan, I’m not going to mention how that goddess cheats.” Glen tergelak sendiri. “Anyway, look at this beautiful creature of God!"
Astaga! Glen membuat wajah anak gadis malang itu memerah. Memuji-muji Dita tidak lihat tempat. Mereka masih di depan Mimi by the way. Mimi malah senyum-senyum sendiri. Mumpung tidak ada pelanggan, Mimi membiarkan dirinya menonton drama komedi romantis live di depan hidungnya. Ini lebih seru daripada menonton drama Korea di televisi.