The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #47

45. The Impulsive Guy Part 1

"Mas Ares!" protes Dita. Matanya membola saking kagetnya.

Bagaimana tidak kaget? Ares menutup kembali pintu mobilnya dan cepat-cepat memenjara jemari kanan Dita di sela jemari kirinya! Ares benar-benar pintar membuat jantung anak gadis Safarina merana karena berdentam tak beraturan.

He had enough dengan bulan-bulan penuh memori pahit akan kehilangan Dita. Dia tidak akan membiarkan Dita pergi lagi dari hidupnya. Tidak selama Ares berada di sisinya.

"Dia bukan perempuan nggak jelas, Pa!" Ares merendahkan suaranya, tajam, penuh penekanan. Genggamannya malah makin kuat. "Dia nggak ada hubungannya dengan perkara pernikahanku dengan Juan. Jadi Ares mohon, jangan hina dia!"

"Mas kenapa?" bisik Dita. Semakin kuat Dita mencoba mengendorkan genggaman Ares, semakin erat Ares memerangkap tangan mungil Dita dan membawanya ke dadanya.

"Kalau begitu menikahlah secepatnya. Agar Papa bisa melihat pikiranmu memang tidak terjebak dengan perempuan tukang ojek itu."

Terjebak? Sepertinya Dadang benar. Ares memang sudah terjebak dengan perempuan tukang ojek ini dan dia tidak menyesalinya!

"Mas Ares," mohon Dita. "sakit, Mas."

"Pa, Ares sedang di jalan. Nanti Ares telepon lagi." Ponsel yang sudah mati Ares lempar sekenanya ke dasbor.

"Kamu nggak perlu turun, Dita! Kamu nggak boleh jauh dari saya! Bukan, bukan. Jangan pernah tinggalkan saya," katanya dingin.

Wajah Ares begitu tegang dan suaranya terdengar datar, tapi Dita sangat sadar Ares terlihat seperti pria nelangsa yang sedang memohon dalam keputusasaanya. Mata itu … menatapnya rapuh.

"Mas, tangan saya!"

Butuh beberapa detik bagi Ares untuk menyadari apa yang telah dia lakukan pada tangan asistennya.

"Ya Tuhan!"

Ares segera melepas jalinan jemarinya hanya untuk mengukung tangan Dita yang kecil di dalam kedua telapak tangannya dan memperlakukannya dengan hati-hati bak keramik dinasti Ming berumur ribuan tahun.

"Maafkan saya, Dita. Did I hurt you?" tanya suara khawatir itu.

"A-Apa?"

"Apa saya menyakiti tangan kamu? Maaf," katanya lembut sekali lagi.

Tidak cukup irama jantungnya yang berantakan, Dita mengalami sengatan listrik berdaya kejut sedang pada permukaan kulitnya yang digenggam Ares dengan kuat, kokoh, dan memenjarakan.

"Saya ... baik-baik aja kok, Mas."

Pelan tapi pasti Dita menarik tangannya. Lalu diam-diam menarik napas dan menghembuskannya pelan demi meredakan gejolak euforia kupu-kupu kecil yang berterbangan dalam perutnya.

***

Lihat selengkapnya