The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #48

46. Sourdough Testing

"Mas Ares, saya udah dimaafin?" tanya Dita di suatu pagi.

Dita membuntuti bosnya ke rak tempat bayi-bayi starter alias ragi alami sourdough-nya disimpan. 'Menempeli' bosnya sudah menjadi kebiasaan setiap pagi demi mendengar kata maaf. Dan jawaban yang Dita terima pagi ini adalah ....

"Belum."

Bahu gadis itu turun drastis. Padahal masih pagi. "Kenapa?" rengeknya sambil menghentakkan kedua kakinya.

Ares tersenyum tipis. "Saya belum mood. Ambil timbangan digital, air mineral, dan tepung protein tinggi di toples," perintah Ares.

Beberapa saat kemudian Dita kembali membawa apa yang diperintah Ares.

"Mas lagi ngapain?" Si asisten memperhatikan Ares menimbang air dan tepung.

"Kasih makan ragi alami."

"Kasih makan? Maksudnya gimana?" 

Ini yang Ares tunggu. Reaksi 'menarik' Dita atas apa yang dilakukannya lengkap dengan pertanyaan-pertanyaan yang sarat akan rasa ingin tahu.

"Ini namanya starter, ragi khusus untuk membuat roti sourdough." Ares mengangkat toples berisi adonan basah dan bergelembung karena sedang mengalami fermentasi. "Di dalam starter ini ada makhluk hidup. Biar nggak mati ya harus teratur dikasih makan. Ini makanannya." Ares menunjuk air dan tepung tadi.

Spontan wajah Dita meringis aneh. "Makhluk hidup?"

Ares malah tertawa. Apa yang dipikirkan gadis ini dengan kata makhluk hidup?

"Ada bakteri baik yang berkembang dalam starter, Dita. Bakteri-bakteri itu yang kita pelihara agar menjadi ragi alami, menjadikan roti yang dibuat dengan ragi alami jauh lebih sehat."

"Aaah. Jadi ada ragi yang nggak alami?"

"Ada." Ares mengambil sebuah bungkusan dari kabinet lemari. "Ini ragi yang dijual di pasaran. Hasil buatan pabrik. Bentuknya seperti butiran kaldu." Dita mengangguk mafhum.

"Emang rasanya beda sama roti biasa?"

"Beda. Nanti kamu rasakan sendiri. Sekarang mari kita buat roti sourdough."

***

Pikiran Ana dipenuhi tawa Ares ketika bosnya menerangkan starter ke asistennya tadi di ruang penyimpanan starter. Kenapa bosnya tidak pernah tertawa seperti itu ketika bersamanya atau Sandy di dapur? Padahal mereka sudah bekerja bersama sejak dibukanya toko ini. 

Setahu Ana, Ares adalah manusia paling tidak suka bicara tidak penting ketika bekerja. Justru bila diajak bercanda atau ngobrol ngalor ngidul, Ares akan kesal dan menyuruh anak buahnya diam. Tapi Dita membuat semua sifat Ares yang keras meleleh satu persatu. Bukan berarti hal itu jelek. Apa terjadi sesuatu di antara Dita dan bosnya?

Ana langsung melipir ke station Sandy dan menyikut rusuknya.

That's hurt,” jawab Sandy pura-pura sakit.

“Lihat, noh.” 

Sandy meninggalkan adonan roti manisnya dan menoleh pada telunjuk Ana yang mengarah pada sepasang manusia yang baru memasuki dapur.

"Mas, keburu lapar kalau mau makan roti sourdough. Lama banget prosesnya. Dua belas jam fermentasi???" Ares terkekeh. "Mending beli nasi warteg, atau beli roti di kang roti di gerobak sepeda itu," gerutu Dita.

"Roti biasa pun buatnya butuh waktu tiga sampai empat jam, Dita."

"Heee? Lamaaa. Untung Mas Ares sabar." Lagi-lagi Ares terkekeh.

"Lagi hepi ya, Bos?" sela Sandy.

Si Bos memutar bola matanya. "Apa pesanan kita hari ini, San?" Pastry chef mode telah diaktivasi. Ares berubah serius dan berjalan ke papan putih, memilih mengabaikan anak buahnya. Dia membaca pesanan untuk hari ini.

"Satu strawberry shortcake, tiga lemon cake, dua lusin cinnamon roll mini, dua puluh croissant chocolate filling, dua puluh eggtart."

"Mas Ares, ada yang pesan kue pernikahan tiga tingkat. Tapi tanya Mas Ares dulu sebelum Mimi bilang deal," timpal Ana.

"Untuk kapan?"

Ares seketika antusias. Sudah lama tidak ada yang memesan kue pernikahan di tokonya. Dia akan senang bekerja sama dengan Ana. Menghias kue membuat mood-nya benar-benar menggelembung seperti balon udara.

"Tiga minggu lagi. Tapi Mas ...."

"Ada apa, An?"

Lihat selengkapnya