The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #49

47. The Impulsive Guys Part 2

"Mas Ares, maaf saya terlambat." Dita datang ngos-ngosan. 

Sebenarnya Dita tidak pernah terlambat. Mungkin karena gadis itu selalu mengimbangi Ares yang muncul di toko pukul 06.20 setiap hari. Dan sekarang pukul 07.10 pagi. Ares meninggalkan timbangannya demi mendengar cerita Dita lebih lengkap.

"Terlambat kenapa?”

“Kecelakaan di—”

"Kecelakaan?” Ares memindai Dita dari ujung kepala sampai ujung sepatu, mencari satu saja goresan. Oh, Dita tidak boleh terluka sedikit pun! “Did you get hurt?" Ares tak dapat menyembunyikan getar cemas dalam suaranya.

Dita berusaha keras menahan senyumnya mengembang. Dikhawatirkan begini … tidak terlalu buruk.

"Aman, Mas. Bukan saya yang kecelakaan."

“Lalu?”

“Kecelakaan di perempatan sana yang bikin macet dan bikin saya telat,” ucap Dita pelan.

Helaan lega muncul beriringan dengan wajahnya yang merileks. "Syukurlah.”

Ares kembali menekuni pekerjaan yang terhenti tadi, yaitu menimbang bahan adonan kroisan. "Ya sudah. Ayo mulai kerja."

"Baik, Mas," sahut Dita.

"Ambilkan saya tepung terigu protein tinggi."

"Baik, Mas." Sebelum mulai bergerak, Dita mendekati Ares. "Mas Ares udah maafin saya?" Pertanyaan wajib yang tidak boleh ketinggalan.

Ares malah memutar bola matanya dramatis. "Belum. Cepat. Mana yang saya minta tadi?"

"Iya, iya. Sebentar," gerutu si asisten yang belum di-ma-af-kan.

***

"Aphrodita!"

Suara berat itu menyapa riang. Spontan dua pasang mata perempuan tangguh The Leisure Treasure Bakery menoleh cepat ke sumber suara.

"Bang Glen. Selamat datang di The Leisure Treasure Bakery," sambut Dita hangat.

"Kamu makin cantik sejak terakhir kita bertemu."

Glen berhasil membuat gadis yang sedang galau karena maafnya belum diterima ini melupakan gundahnya sejenak karena malu. Tertawa sumbang menjadi tamengnya untuk menyembunyikan salah tingkah.

Mimi membelalak. Kali ini dia terang-terangan memperhatikan mereka. Sebab, menurut Mimi Glen terlalu frontal.

"Bang Glen mau beli sesuatu?" Pura-pura cuek, tapi tengkuk Dita memanas tanpa seizinnya.

"Ya. Maunya sarapan bareng kamu, tapi saya harus ke gedung KKTV dalam satu jam."

"Kalau gitu, mari kita lihat, apa yang akan Bang Glen pilih hari ini."

Seorang perempuan anggun berjalan ke meja Mimi dan membuka kacamata hitam dengan tulisan Christian something di kedua gagangnya. Rambutnya hitam bergelombangnya tergerai dengan indah. Mimi selalu terkesima dengan betapa gemulainya tubuh tinggi itu berjalan menujunya.

"Hai. Bisa tolong beri tahu Ares, kalau saya menunggu di luar? Terima kasih."

"Ditunggu sebentar, ya, Mbak Juan."

Mimi masuk ke dapur dan mendekati meja kerja Ares yang penuh adonan bulat makarun warna-warni siap panggang.

"Mas Ares, ada tamu."

"Siapa, Mi?" 

Lihat selengkapnya