Bibirnya tak berhenti berkedut sejak lima menit yang lalu. Selamat, pembohong. Kamu baru saja melakukan hal yang paling kamu benci. Dasar bodoh. Tapi Ares senang melihat wajah pria itu kecewa. Syukurin! Asal ajak perempuan yang baru dikenal untuk makan malam? It's not gonna happen, Dude!
"Res. Makan malam kita nanti."
Tapi wajah Dita benar-benar priceless ketika tahu harus menjemput Maple saat itu juga. Saking senangnya, gadis itu sampai tersenyum amat lebar, seakan-akan sedang berterima kasih untuk apa pun itu. Dia harus segera menelepon pet spa langganan Maple agar kucingnya tidak jadi di antar ke tokonya. Untuk sekarang, mari hadapi Juanita. Cepatlah habiskan sarapanmu, Juan. Pekerjaanku menunggu di dapur.
"Aresta Dian Sasongko." Sebuah sentuhan lembut menangkup punggung tangan Ares, membuyarkan pikirannya barusan.
"Ya, Juan?" Pelan tapi pasti, Ares menarik tangannya dan diistirahatkannya di atas lutut.
Perempuan anggun itu memutar bola matanya. "Jangan lupa makan malam nanti. Temanku baru buka restoran, ceritanya soft opening gitu."
"Oke.” Demi menghargai Papa, bersit Ares dalam hatinya.
“Good.” Akhirnya Juan tersenyum lebar. “I think I must stop here. Kalori pai ini akan membuat beratku bertambah."
Pastry chef itu mengangkat kedua alisnya. Pasalnya, baru segigit, pai daging itu diletakkan begitu saja. Bahkan yang digigit hanya kulit pai. It's just a small piece of pie. Hanya sebesar kepalan tinju tangan Dita. Ares yakin, Dita tidak akan menyia-nyiakan makanan. Dita akan menghargai apa pun makanan yang ada di hadapannya.
"Aku pikir nggak akan ada masalah, Juan. Aku yakin kamu menghabiskan sedikitnya dua jam setiap hari di gym. Belum lagi pilates, atau yoga, mungkin?"
Ares benar. Juan maniak olahraga. Ada olahraga yang belum Ares sebutkan: renang.
"I know. Tapi aku nggak mau berat badanku naik even dua ons."
Whatever, Juan, gerutu Ares dalam kepalanya.
Satu gigitan kecil kroisan masuk ke mulut Juan. Kunyahannya lambat, tapi bertolak belakang dengan matanya yang bergelora karena memikirkan sesuatu yang mengganjal pikirannya
Sayangnya kesabaran Ares sudah berada di tepi jurang. "Juan."
"Res," ucap mereka bersamaan.
“Kamu duluan.” Ares mengalah dan menekan ketidaksabarannya.
"Sudah berapa lama Dita kerja jadi asisten kamu?”
“Baru beberapa bulan.”
"Kalian terlihat … cukup dekat. Seperti seorang teman ketimbang asisten.”
"Sebelum jadi karyawanku, dia adalah temanku. Sekarang dia anak buahku. Ada yang salah dengan itu?" Ares terkejut nada bicaranya terdengar defensif bahkan bagi telinganya sendiri.