The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #51

49. You Think So?

"Berapa lama Mas Ares belajar bikin bunga di cupcake itu?" Salah satu dari sekian banyak pertanyaan yang sarat akan rasa ingin tahu tinggi dari Dita. Ares menyukainya.

"Paling beberapa jam. Tapi latihannya nonstop. Dan lumayan menghabiskan banyak buttercream saat itu." Mata Ares tetap fokus pada cupcake dan tangannya bergerak lincah membuat kelopak demi kelopak sehingga membentuk sebuah bunga utuh.

Dita tidak berhenti ber-whoa ria setiap satu hiasan jadi. Sudut bibir Ares berkedut tanpa bisa dicegah. Kalau bisa sih, dia ingin tersenyum sangat lebar dengan bebas. Tapi harus jaim, dong?

"Dulu mama—maksud saya, saya orang nomor satu yang bakal colek krim-krim itu kalau lagi buat kue tart di rumah." 

Ares spontan mencari mata bulat asistennya. Karena entah bagaimana suara Dita terdengar rapuh di telinganya. Ares tidak suka mendengarnya. Hal itu hanya berarti satu hal: gadis ini sedang bersedih. Dita memang terlihat antusias, tapi tatapannya tidak bisa berbohong. Wajah Dita itu seperti buku yang terbuka. Terlalu mudah dibaca.

"Mas, saya permisi ke toilet, ya," izin Dita sopan.

"Di ...." Dita keburu pergi. "ta." Ares berbicara pada angin.

Ares bertekad suatu hari nanti dia akan membuat Dita terbuka padanya. Jadi gadis itu tidak perlu lagi menyimpan semua kesedihannya sendiri.

Bos (yang tadinya) galak itu menghela napas dan melanjutkan pekerjaannya dengan banyak skenario yang telah terbentuk di kepala: bagaimana cara membuat Dita kembali tersenyum.

Sementara itu di meja kerja si Cake Specialist, Ana mengirim telepati pada Sandy yang sedang menipiskan adonan cinnamon roll. Ajaibnya, Sandi menerima pesannya.

Ana menaik-turunkan alisnya dengan mata penuh muslihat. Sandy mengulum senyum sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali. Aksi tanpa suara ini diinterupsi oleh kedatangan Mimi ke dapur.

"Ada apa, Mi?" tanya Ares.

"Itu Mas, kue pernikahan atas nama Rano dan Nina dibatalkan." Ares menaikkan alisnya sebelah.

"Oke."

Semua anak buah Ares terdiam menunggu reaksi si bos.

"Apa yang kalian tunggu. Kembali bekerja!"

Sandy, Ares, dan Mimi otomatis menggerakkan badan mereka, melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda.

***

Dita masih belum mendapatkan jawaban mengapa dia berada di dalam SUV yang penuh dengan aroma memabukkan si mantan suami gadungan ketika pertanyaan lain muncul di kepalanya. Kapan maafnya akan diterima dan kapan Ares akan menikah dengan wanita anggun itu

"Haaah. Nyesek banget rasanya," bisik gadis itu meremas kemeja di bagian dadanya sambil membuang pandang ke jendela.

Apa pentingnya, sih, memikirkan mantan suami yang akan menikah dengan orang lain yang jauuuh lebih cantik darimu? Tidak ada. Kecuali ... kamu belum move on.

Bagaimana Dita mau move on kalau sikap Ares makin lama makin manis dan menggemaskan dan aneh. Ares tersenyum, tertawa, dan memberikan ilmu per-baking-an secara cuma-cuma padanya. Bukankah itu tanda mood Ares sedang bagus?

Disebut aneh bukannya tanpa alasan. Bos pelit maaf itu nyatanya nggak galak-galak amat belakangan ini. Hanya moody. Tapi moody-nya itu, lho. Bikin kesel!

Keanehan itu diperkuat ketika tadi Ares memaksa untuk mengantar Dita pulang karena mereka terlalu lama mengobrol tentang bagaimana Ares sampai diterima di salah satu art of culinary school bergengsi di Amerika Serikat sambil makan risotto daging Wagyu A5 yang super lembut dan juicy buatan Ares.

“Dita.”

“Ya, Mas?”

Ares terkekeh. “Kamu lagi ngelamunin apa?”

“Ng … saya ngelamun?”

“Saya tanya apa Maple tambah gemuk, dan kamu diam aja. Sepertinya trotoar di luar lebih menarik dari cerita saya.”

Mungkin Dita memang harus mengenyampingkan perasaannya. Baiklah, dia akan memusatkan perhatian pada pak supir aneh di sisi kanannya.

"Iya, Maple gendutan. Mas nggak ada lari-larian sama Maple? Olahraga apa kek, gitu? Maple harus diet, Mas. Perhatiin makannya. Lama-lama Maple bisa obesitas."

Ares tersenyum masam tidak membantah.

"Kamu tahu, saya pergi pukul 06.00, pulang pukul 22.00 setiap hari. Mana sempat quality time dengan Maple? Saya kasih makan karena saya sayang Maple, Dita."

"Iya. Saya tahu Mas Ares sayang Maple. Tapi nggak gitu juga kali, sampai kasih makan semaunya Mas. Maple perlu porsi dan jadwal makan teratur."

"Menurut kamu begitu?"

"Ya. Kalau perlu ajak Maple jalan-jalan pagi rutin seperti yang aku lakukan dulu."

"Saya nggak terlalu yakin bisa melakukannya, tapi saran kamu saya tampung."

"Lho, kok nggak yakin? Maple juga butuh teman. Mau manusia atau teman sesama kucing. Kucing juga bisa kesepian, lho."

"Menurut kamu begitu?"

"Ya."

"Kayaknya Maple butuh kamu, Dita."

"Saya deh yang butuh Maple,” kekeh Dita.

"In fact, nggak hanya Maple yang butuh kamu, Aphrodita," kata suara itu melembut.

Walaupun pandangan Ares tertuju pada jalan, kelembutan itu sampai ke hatinya seakan-akan Dita tahu, siapa yang membutuhkannya. Lagi-lagi Ares berhasil membuat Dita baper.

Lihat selengkapnya