The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #52

50. I Miss You Already

"Tolong bersihkan station saya, Dita."

"Baik, Mas."

Apakah Ares sudah mendapatkan jawaban mengenai tawarannya untuk mengantar-jemput Dita setiap hari? Jawabannya belum. Itu karena Dita dengan tampang memelas meminta waktu tambahan hingga nanti malam. Ares sudah tentu tidak bisa menolak puppy eyes-nya Dita bila sudah memohon seperti itu.

"Sudah selesai, Mas."

"Terima kasih. Food tester, sekarang ikuti saya."

Kedua alis gadis itu terangkat seiring dengan garis senyumnya yang kian mengembang. Reaksi Dita selalu sesuai dengan harapannya. Ares tersenyum diam-diam.

Mereka duduk berhadapan di meja yang bersisian dengan jendela kaca—sudut favorit Dita. Karena hanya mereka berdua yang tinggal di toko, Ares menghidupkan speaker toko dan memutar musik jaz tahun lima puluhan. Lampu kuning yang hangat, jaz lembut sebagai latar belakang, dan makanan lezat di meja. Mereka terlihat seperti sedang berkencan dengan menyewa seluruh toko hanya untuk berdua.

Cupcake dengan aneka rasa buttercream, berbagai macam roti, donat berbagai jenis glaze, pai manis dan gurih, hingga beberapa potongan kue terhampar di meja untuk Dita coba. Mereka ditemani kopi panas yang Ares seduh dari mesin pembuat kopi dari Hot and Cold station.

"Semuanya enak," puji Dita setelah kunyahan pai daging habis.

"Ada yang berbeda antara produk toko kita dengan cabang?" Ares serius menunggu jawaban Dita.

"Ada." Dita kemudian memisahkan makanan yang dimaksud.

"Eeeh Mas Ares!"

"Apa?" Pria itu sedang konsentrasi mencicip, mengikuti jejak Dita.

Yang membuat Dita spaning adalah ....

"Kenapa Mas makan dari bekas gigitan saya?"

"Masalahnya di mana?" Ares tidak peduli dan terus merasai produk dari toko keduanya.

"Memangnya Mas Ares nggak ngerasa jijik?"

"Kita bahkan pernah berciuman, Dita. Apa setelah itu saya kelihatan jijik?”

"Ya … enggak, sih," jawab Dita menekan rasa malu. Dia dan Ares malah kelihatan sangat, sangat menikmatinya. Tapi kenapa memori itu dibawa-bawa di tengah food testing ini, sih? 

"Case closed." Ares mengangkat kedua bahunya ringan dengan seulas senyum di bibir.

Ares terus mencicipi semua makanan yang hanya Dita gigit sesudut sampai makanan terakhir. Dita sudah di tingkat pasrah dan terpaksa masa bodoh.

"Ya. Beberapa memang berbeda dari resep saya. Besok saya akan ke cabang untuk bicara dengan kepala dapur dan Irfan."

"Saya juga ikut?" tanya Dita.

"Untuk apa? Kamu bantu Sandy dan Ana saja."

"Iya, sih. Buat apa ikut kalau Mas nggak kasih kerjaan seperti waktu itu."

"Itu ... untuk kepentingan hati saya," gumam Ares.

"Maksudnya?" Ares memilih diam menikmati sisa pai daging yang mereka 'gigit' bersama tadi.

"Mas, kenapa mesti pakai syarat hanya untuk maafin saya?"

"Saya hanya nurutin mood." 

Saking kesalnya dengan jawaban Ares yang itu-itu saja, Dita meraup cupcake blueberry dan menyumpalkannya ke mulut. Akibatnya beberapa buttercream belepotan di sekitar bibirnya.

"Udah gede makannya masih berantakan."

Ares hendak membersihkan noda buttercream di bibir atas Dita, tapi Dita lebih cepat menghindar.

"Eits, Mas! Aku bisa sendiri." Cepat-cepat Dita bersihkan dengan punggung tangannya. Dita hanya tidak mau kejadian di apartemen terulang kembali. Bukan berarti Dita komplain, Dita hanya takut dia tidak mau melepaskan bibir Ares untuk kedua kalinya.

Ares tersenyum misterius. "Jadi, apa jawaban kamu, Aphrodita Diana Saraswati?"

***

"Udah semingguan ini aku nggak lihat motor kamu. Kenapa, Dit? Motornya rusak?" sapa Mimi di awal hari.

Mati aku!

"Motorku sehat-sehat aja, kok. Lagi nggak pengen bawa motor, Kak Mimi," kilah Dita.

"Ooh." Mimi kembali melanjutkan membuka pembukuan hari ini. Sedangkan Dita diam-diam menghela napas lega.

Semua gara-gara Ares. Demi sebuah permintaan maaf, Dita rela dijemput dan diantar bos anehnya setiap hari. Tapi sampai hari ke tujuh, maafnya belum juga diterima. Hanya ada dua kemungkinan: 1. Dia sedang dipermainkan, sehingga syarat antar-jemput hanya akal-akalan bos-tak-terlalu-galak-dan-makin-manis itu. Atau 2. Ares benar-benar marah padanya.

Tapi, untuk yang kedua sepertinya juga tidak mungkin. Kalau marah, tidak mungkin Dita selalu diajak makan malam entah itu makanan buatan Ares di dapur The Leisure Treasure Bakery, makan sate di pinggir jalan, ke restoran Italia, atau menemani Ares membeli makanan untuk Maple, hingga menertawakan hal konyol menuju kos Dita.

Lihat selengkapnya