Ares mesti menjemput paspor ke apartemen dan segera berangkat ke bandara. Tapi pantatnya malah menempel kuat di sofa bersama Dita. Dia tidak mau pergi cepat-cepat. Ares masih ingin bersama gadis yang pipinya sedang kemerahan ini.
"Maksud Mas Ares apa? Kenapa saya nunggu di apartemen?" tanyanya bingung.
Wajar Dita bingung. Pernyataan tiba-tiba itu membuat dirinya harus diberi penjelasan super duper masuk akal, apalagi jantungnya sudah dibuat berdetak tidak normal sejak tadi. Lama-lama Dita bisa kena serangan jantung.
"Pertama, saya ingin kamu yang menjaga Maple. Lebih baik Maple bersama kamu di apartemen daripada dititipkan di pet care. Kedua, dia kangen kamu, Dita. Percaya atau tidak, kalau dia sedang kangen tuannya yang ini,” Ares menyangkutkan sejumput rambut ke balik telinga gadis itu, membuat Dita tersipu. “dia akan tidur di keset kaki kamar kamu dulu."
Oh, Maple. Dita juga kangen padanya.
"Beneran?"
Ares mengangguk. "Ketiga, saya lelah berpura-pura di depan kamu. Saya nggak suka lihat kamu senyum ke pria lain. Saya ingin segera memiliki kamu."
"Mas Ares ...." Dita terkesiap dan menutup mulutnya dengan tangannya yang bebas. Dentaman jantungnya makin tak berima.
Dita bingung harus berkata apa. Dita mengerti hatinya sering dibuat tak karuan gara-gara kelakuan si mantan suami, tapi dia pikir selama ini hanya dirinyalah yang kelewat baper.
"Mas Ares jangan bercanda."
"Saya nggak pernah bercanda untuk hal-hal yang ingin saya lakukan dengan serius dan sepenuh hati."
Dita mendengar kalimat itu lagi. Dan wajah Ares juga tidak menunjukkan tanda-tanda dia bercanda. Hanya berarti satu hal: pria ini benar-benar sedang serius.
"Saya nggak mau lagi pura-pura marah sama kamu."
"Jadi permintaan maaf saya selama ini Mas Ares anggap main-main?" Mata Dita menyipit penuh ancaman.
"Bukan begitu maksud saya, Dita."
"Terus?"
Dita cemberut, tapi tidak ada tanda-tanda gadis itu ingin menarik tangannya, jadi Ares merasa di atas angin. Dia malah memindahkan tangan mereka yang bertaut ke atas pangkuannya.
"Saya memang benar-benar kecewa saat itu. Dari semua orang, kenapa harus kamu yang membohongi saya? Itu karena sejak kita pertama bertemu, kamu sudah mengambil perhatian saya, Dita."
"Maaf." Dita menunduk penuh sesal.
Dengan tangannya yang lain, Ares mengangkat dagu Dita agar dia bisa melihat wajah gadisnya lagi.
"Nggak apa-apa. I'm fine now. I can't even find any reason to be mad at you. I just can't."
"Kenapa?"
"I think I’m in love with you," bisik Ares dengan syahdu.
Aku mengatakannya! Aku mengatakannya! teriak Ares dalam kepalanya.
Beberapa detik Dita terpana pada mata yang menatapnya sendu, menelisik kejujuran dan ketulusannya. Ares … mencintainya. Pria tampan dan pemarah ini mencintainya? Gadis sepertinya?
"Tunggu, tunggu. Nggak semudah itu Mas Ares!" tegas Dita, walaupun hatinya sempat percaya beberapa detik yang lalu.
"Kamu nggak percaya saya?"
"Bagaimana mau percaya? Bukannya Mas mau menikahi Mbak Juan?"
"Untuk apa saya menikah dengan Juan?"
"Mbak cantik itu yang bilang kan, kalau Mas calonnya?"
Ares terkekeh. "Kami memang dijodohkan, tapi saya nggak suka dia. Saya sukanya kamu. Kamu jauh lebih cantik dari Juan."
Pipi gadis malang itu memanas dengan cepat.