Sudah seminggu lebih Dita tidak bertemu si calon kekasih. Tapi rasanya seperti sudah berbulan-bulan. Berlebihan? Mungkin menurut kalian, iya. Tapi, menurut mereka yang sedang di mabuk kepayang gara-gara jatuh cinta: TIDAK.
Ini nih contohnya. Ada yang terpaksa menggigit bibir bawahnya demi meredam gejolak mabuk kepayang gara-gara sebuah pesan.
Tukang Roti
Can't wait to hug you tonight, calon istri ♥
Anda
Saya belum kasih jawaban, Mas Areeeees. Jangan kepedean.
Tukang Roti
Saya memang pede kamu akan terima saya.
Anda
Suka-suka Mas ajalah. Berarti hari ini saya bisa pulang ke kos, kan?
Tukang Roti
NO. Please stay a little longer 🙏🏻🥺
Anda
Enggak!
Tukang Roti memanggil ….
"Yah, langsung di telepon," gumam Dita.
"EHEM. Yang lagi senyam senyum sendiri," celetuk Mimi.
"EHEM. Yang mukanya semerah udang goreng," ledek Sandy.
“EHEM. Yang lagi dimabuk chintaaah,” seru Ana.
Buru-buru Dita menolak panggilan telepon Ares.
"Apaan sih, Kak Mimi? Bang Sandy? Mbak Ana? Ngaco, nih. Merah gimana? Aku biasa aja, tuh. Nih-nih, lihat. Mana ada ya, senyum-senyum sendiri? Dimabuk cinta? Apa pula itu?"
Mati-matian Dita membela diri. Yang ada tiga seniornya malah makin gencar menyiram bensin ke kobaran api asmara. Jiaaah.
"Heh, Dita. Semakin agresif lo menyangkal, semakin kita yakin kalo lo lagi ...." Sandy, Ana, dan Mimi bermain kode saling mengerlingkan mata misterius.
Dita meremas celananya di bawah meja di ruangan istirahat ketika tiga senior usil itu mulai menghitung mundur.
"Jatuh cinta!" seru mereka bertiga berbarengan. Mereka berhasil membuat telinga dan pipi si anak gadis malang makin merah.
"Glen si hitam manis, kan?" goda Mimi.
"Bang Glen? Bukan, Kak Mimi. Dia cuma mantan penumpangku," aku Dita.
Kena kamu Dit, batin Mimi.
Lha, si Dita lugu banget, kikik Ana diam-diam.
Iya kaaaan? Sorak Sandy dalam kepalanya.
"Oh, bukan?" goda Ana.