Dita dan Maple duduk di lantai menghadap pintu menunggu pemilik hunian mewah ini pulang dari Melbourne. Jantungnya berdegup terlalu kencang, membuat Dita sering menepuk-nepuk dada kirinya demi meredakan debaran itu. Sejak Ares mengirim pesan yang mengatakan bahwa dia akan sampai dalam sepuluh menit, Dita jadi tak sanggup menelan apa pun. Padahal dia sedang menikmati mi rebus di depan TV.
Suara melodi kunci terbuka seperti alunan musik nan merdu di telinga Dita. Maple mengeong menatap pintu sedangkan Dita berdiri dengan tegap.
Dita pikir, Ares akan langsung menodong jawabannya ketika mata mereka bertemu. Namun, apa yang terjadi? Ares melangkah tergesa-gesa padanya dan tubuh Dita langsung berada dalam dekapan hangat, erat, dan merindukan. Dita tak mau kalah. Dia pun memproyeksikan kerinduannya dengan membalas pelukan pria yang membuat jantungnya selalu berdebar-debar.
Pria itu menghirup dalam-dalam aroma yang dirindukannya. Aroma Dita yang sarat akan keharuman sebuah 'rumah'—rumah masa depannya. Oh, dia sangat merindukan gadis cengeng ini.
"Mas."
"Hm?"
"Selamat datang kembali."
Pelukannya mengerat. “I miss you,” bisik Ares.
“Miss you too.”
“Makasih udah kangenin saya.”
Dita terkekeh dan menyandarkan kepalanya di dada Ares sambil menghirup wangi memabukkan favoritnya.
Deguban dalam dada Dita menjadi-jadi. Dia yakin, Ares pasti merasakannya. Tapi setengah menit kemudian, Dita jadi tidak yakin. Ini ... degup jantung dirinya atau ... degup jantung Ares yang bertalu-talu?
Kemudian Ares menarik diri tanpa benar-benar mengurai pelukannya. Tatapan Ares membuat Dita mendongak dan hanya melihat padanya saja.
"Dengar, Aphrodita Diana Saraswati. Saya nggak peduli kamu sebatang kara, miskin, nggak punya apa-apa, dan nggak punya siapa-siapa. Dan saya nggak peduli apa kata orang tentang kamu. Yang saya pedulikan hanya satu: jangan pernah tinggalkan saya, Dita. Saya mohon.”
Permohonan Ares terdengar amat pilu di telinganya. Bagaimana mungkin Dita akan berkata tidak atas niat rujuk Ares?
"Kenapa Mas nggak peduli dengan latar belakang saya?"
Bibir merah muda Ares yang tak pernah merokok tersenyum manis. Gemas Ares dengan pipi yang sedang memerah itu. Ingin Ares gigit sekarang juga, tapi dia tidak mau membuat Dita lari tengah malam gara-gara perbuatannya. Jadinya, Ares menahan diri hanya dengan mengelus pipi Dita dan berlama-lama di sana.
"Karena latar belakang kamu nggak akan mengubah fakta bahwa saya suka semua hal tentang kamu. Kamu akan menjadi alasan kenapa saya hidup dalam kebahagiaan, Dita."
Hati anak gadis Safarina menghangat. Dita tersenyum manis.
"Beneran?"
"Iya."
"Serius?"
"God. Iya, Sayang. Iya," gemas Ares.