Dengan hati-hati, Dita membawa baki berisi madeleine berhias glazing coklat warna pink bertabur gula kristal ke etalase kaca. Kemudian dia menyusun satu persatu kue kecil itu dengan rapi dari balik jendela kaca geser. Namun, tangannya berhenti bergerak ketika dua orang pelanggan dari balik kaca menyebut-nyebut sebuah nama yang sudah dirindukannya beberapa bulan ini.
Keterkejutannya tak berhenti sampai di situ. Jantungnya berdetak macet ketika tahu siapa pelanggan yang tengah bicara. Dita terpaksa bersembunyi di lantai mendengar penuh konsentrasi.
"Safarina?"
"Iya. Dia temen arisanku.”
“Sebentar. Apa kita membicarakan istri Aiman, pengusaha tambang yang meninggal beberapa tahun lalu dan punya satu putri?”
“Bener banget Mbak Wid. Nah, sejak menikah lagi, Rina berhenti ikut arisan dan 'menghilang' dari peredaran. Tahu-tahu muncul dan nipu temennya sendiri! Ngeri!"
"Nipu apa dia, Arisa?" suara Widyawati meninggi.
"Jual beli berlian. Ternyata cuma permata zirconia, Mbak Wid. Temenku rugi besar."
"Berapa kerugiannya?"
"Hampir dua miliar." Seseorang terkesiap di bawah sana. "Untung anakku nggak jadi dijodohin sama anaknya Safarina. Malu aku kalau sampai kejadian."
Dita mempercepat tangannya meletakkan madeleine dan kabur sesegera mungkin. Dita khawatir makin lama di sini, dia bisa saja melabrak tamu-tamu itu demi membela kehormatan mamanya dan mempermalukan Ares dan tokonya.
***
“Mimi, sini,” panggil Widyawati pada Mimi, tidak peduli dengan antrian pelanggan yang mengular di depan counter Mimi. Mimi langsung datang dengan setengah berlari.
"Iya, Bu Widya?"
"Tolong suruh Ares menemui saya ya, Mi."
"Baik, Bu. Ditunggu."
Lima menit kemudian baru Ares keluar dari connecting door sambil bersungut-sungut.
"Mama hobi banget manggil aku keluar dapur. Mana ini jam sibuk," gerutu Ares tanpa henti. Namun dirinya tetap melangkahkan kaki ke meja Widyawati.
"Tante," sapa Ares sopan pada orang tua Tobi sesaat setelah sampai di meja mamanya. Arisa balas mengangguk. Kemudian Ares beralih pada mamanya. "Ada apa, Ma?" tanya Ares sambil duduk di sebelah mamanya.
“Arisa, boleh kami bicara empat mata?” pinta Widyawati lembut.
“Tentu, Mbak Wid.” Patuh, Arisa keluar dari kursi dan pindah duduk sejauh tiga meja dari Widyawati dan putranya.
“Tinggalkan Dita sekarang juga! Mama nggak mau kamu berhubungan dengan anak seorang kriminal,” desis Widyawati setelah memastikan Arisa tidak mendengarnya.