"Haaah."
Sampai detik ini, pikirannya tidak menemukan titik terang kenapa Safarina sampai berbuat nekat. Apa ada yang salah dengan keluarganya sepeninggal papanya? Apa Safarina merasa kurang diperhatikan? Apa dia gagal menjalankan peran sebagai anak?
"Haaah."
Apa kebutuhan Safarina sangat-sangat tidak terpenuhi sehingga dia bertindak nekat? Apa Dita salah, telah menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah mencari uang sehingga Safarina terabaikan? Lho, memangnya dia yang bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup ibunya? Kan seharusnya Safarina yang—tidak, tidak. Seharusnya mereka berdua saling menjaga satu sama lain, bukannya sibuk mementingkan diri sendiri.
Ma, apa yang Mama pikirkan sampai berbuat terlalu jauh? Ini ... ini tindakan kriminal, Ma, keluh Dita.
"Haaah."
Seharusnya semua pemikiran itu muncul dari ibu untuk anaknya, bukan sebaliknya. Lalu ide konyol ini tiba-tiba muncul: ada jiwa anak kecil terjebak dalam tubuh dewasanya, membuat Safarina bertindak tanpa pikir panjang, tanpa memikirkan konsekuensi yang akan menyertainya nanti. Tapi, Safarina hidup lebih lama dari Dita. Seharusnya Safarina harus bisa berpikir dan bertindak lebih dewasa. Tapi yang terjadi malah sebaliknya.
"Haaah."
Namun, dari sosok seperti Safarinalah Dita lahir ke dunia ini. Apa yang harus dilakukannya selain menjadi anak yang terus berbakti dan menyayanginya dengan sepenuh hati? Benar begitu, kan, seharusnya?
"Haaah."
"Dit."
"Ya, Kak Mimi?"
"Udah lima kali, lho, kamu menghela napas kayak banyak banget benang hidup di pundak kamu. Makan siang kamu cuma diubek-ubek. Kamu lagi ada masalah?"
"Oh, ya? Enggak kok, Kak Mimi. Aku baik-baik aja." Dita terkekeh dan menyeringai (pura-pura) riang dan melanjutkan menyuap nasi yang tak lebih dari seujung sendok. Selera makannya sedang kabur entah kemana.
"Yah, ketawa lo kering, Dit. Lo ada masalah?" tanya Sandy sekali lagi.
Sandy tidak asal tanya. Itu karena Dita terus-terusan membawa barang yang salah ketika di dapur. Diminta bawa fine sugar, malah bawa brown sugar. Diminta bawa tepung terigu, malah bawa tepung maizena.
"Nggak ada, kok, Bang," jawab Dita sekenanya. Oh iya, tadi dia sudah memberikan jawaban yang sama ke Mimi. Duh, Dita lagi nggak bisa konsentrasi memikirkan jawaban yang lebih kreatif.
“Kalau kamu kayak gitu terus, aku dan Sandy bakal kena efeknya, Dita,” jelas Ana pelan-pelan tanpa terdengar menyudutkan. “Kerjaan kita bakal terhambat. Seperti efek domino. Mending kamu kesampingkan dulu masalahnya. Atau, mau cerita ke kita-kita?”
"Maaf, Mbak Ana. Setelah ini aku akan lebih konsentrasi," jawab Dita sungguh-sungguh.
Kemunculan Ares di ruang istirahat ini membuat semua kepala menoleh padanya. Hanya dalam beberapa langkah, Ares berhenti tepat di sisi kekasihnya.
"Ada apa ini? Semua orang kelihatan tidak bersemangat.”