The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #59

56. The Late Dinner

"Mas Ares, Dita, Mimi pulang, ya," pamit Mimi ke dapur. Dua orang itu sedang beres-beres di station Ares.

"Hm." Ares hanya bergumam di tempatnya.

"Ya, Kak Mimi. Hati-hati," sahut Dita sambil melambaikan tangan.

"Inget, Dit." Kerlingan jahil dari mata Mimi di balik kaca mata tebalnya masih bisa Dita tangkap. "Jangan pulang kemalaman kalian berduaaa," teriak Mimi meninggalkan dapur.

Dita langsung berhenti mengelap station Ares dan menoleh cepat pada si Tukang Roti. "Mas Ares. Kok Kak Mimi kayak tahu kalau kita ... kalau kita …." Dita masih malu menyebutkannya dengan percaya diri bahwa mereka adalah sepasang kekasih.

"Kalau kita apa?"

Kepergian Mimi membuat Ares segera mengeluarkan makan malam mereka: sebuah adonan roti piza dan menipiskannya dengan tangan. 

“Kita pacaran,” bisik Dita malu-malu.

Ares terkekeh geli. “Memangnya kenapa? Kamu nggak mau Mimi tahu?”

"Lho, memangnya Mas Ares nggak malu ketahuan pa-pacaran sama aku?"

Ares mengernyitkan keningnya. "Untuk apa? Aku nggak malu. Aku bangga kamu kekasihku," ucap Ares santai. 

Tangan cekatan Ares memoles saus tomat ke atas adonan tipis, lalu menabur jamur kancing, bawang bombay, potongan daging asap, potongan sosis, paprika merah dan hijau, keju cheddar, keju parmesan, dan keju mozarela yang sudah Ares persiapkan beberapa jam sebelumnya dan disimpan di lemari pendingin.

Sejujurnya pujian tadi membuat hatinya menghangat. Namun, beberapa detik kemudian, Dita menatap nanar piza menggiurkan itu. "Aku merasa belum siap."

"Kamu malu karena bersamaku?" Ares mengangkat kepala mencari mata kekasihnya.

"Bukan. Aku bersyukur banget malah."

"That's my girl." Ares bersemu. "Lalu kenapa?"

"Aku cuma … hm … perempuan biasa. Wajahnya juga biasa. Kerjaannya gini-gini aja. Mamaku—”

"Bukannya episode 'Alasan Mengapa Aku Suka Kamu' sudah lewat? Apa itu masih penting sekarang?" potong Ares mencoba menekan rasa sebalnya gara-gara insekuritas Dita yang sudah mulai kelewatan.

"Aku tahu, tapi aku kayak hidup dalam mimpi. Mas seperti mimpi di siang bolong untukku. Aku cuma ngerasa nggak pantas aja mendampingi ...." Dita melambaikan tangannya ke pria yang sedang membawa loyang piza ke oven di ruang sebelah. Ugh, Dia benci perasaan rendah diri ini. Tapi Dita tidak bisa menyangkal fakta bahwa dirinya memang tidak pantas bersanding dengan pria seperti Ares. “Apalagi kalau kita sampai go public.” Gadis itu melipat bibirnya.

Ares memasukkan piza tadi ke dalam oven panas, menyetel timer 20 menit lalu keluar dan berkata, "Asal kamu tahu, setelah kita bercerai, kamu berhasil membuat hidupku ... kosong. Kamu membawa pergi sesuatu yang berharga dariku. Dan itu bukan hal yang bagus. I hate the moment when you left me, Young Lady." Sekilas wajah Ares tampak terluka.

"Aku nggak pernah mencuri!" 

Ares tertawa kecil. Kemudian dia mengambil kursi dan duduk di sisi Dita dan menggenggam tangan kekasihnya. "Kamu mencuri hatiku, Sayang."

"Oh astaga!" Dita tertawa lepas. "Kembalikan Mas Ares yang dulu. Sumpah geli banget dengernya." 

Lihat selengkapnya