Tiga bulan yang lalu pengadilan memutuskan Safarina harus menebus kesalahannya dengan menjadi warga yang hilang kemerdekaannya selama tiga tahun dikurangi masa tahanan dua bulan. Pengacara Ares berusaha mati-matian untuk mengurangi masa hukuman Safarina dari maksimal empat tahun penjara. Pengurangan satu tahun merupakan anugerah besar bagi Dita dan Safarina. Tak henti-hentinya Ares dihujani terima kasih dari Dita setelah hakim mengetukkan palu kala itu. Ares terpaksa 'membungkam' Dita dengan memeluknya dan mengatakan semua karena kuasa Tuhan, bukan karena dirinya.
Setelah urusan persidangan yang panjang dan melelahkan selesai, Dita malah makin tenggelam dalam kesedihan daripada saat Safarina masih di rumah tahanan. Dirinya sedang beradaptasi dengan perubahan dramatis hidupnya. Demi Tuhan. Mamanya tercinta sedang menebus dosanya di penjara. Apa Dita bisa bersenang-senang menghirup udara bebas? Yang bisa dilakukannya hanya satu: membuat pikirannya tetap sibuk dan membuat tubuhnya bergerak hingga lelah.
Robot manusia, itulah Dita sekarang. Dia bekerja dengan sangat baik. Semua pekerjaan Dita dilakukan dengan hampir sempurna. Bila melakukan kesalahan, Dita hanya akan minta maaf, tanpa senyum, tanpa meringis, tanpa ekspresi. Sandy, Mimi, dan Ana justru merasa 'terganggu' dengan perubahan Dita yang biasanya sangat suka mengobrol dan gampang tersenyum tiba-tiba menjadi irit bicara.
Ares tidak bisa profesional sama sekali bila menyangkut soal Dita. Kalau bisa, dia akan memberi waktu cuti tak terbatas sampai Dita merasa lebih baik. Tapi, Dita kan asisten Ares? Jadi Sepertinya Ares bisa memanfaatkan titel itu, sedikit.
"Dita."
Dita bergidik kaget dari lamunannya. "Ya, Mas."
Sandy dan Ana ikutan melirik Dita dari tempat mereka bekerja.
"Jemput Maple di pet spa lalu antar ke apartemenku. Tolong temani Maple sebentar, ya. Setelah itu baru ke sini lagi."
"Bukannya tadi Mas suruh ke Toko Madam?"
"Telepon Ci Lina, pakai jasa delivery saja."
"Sekarang?"
"Tahun depan."
"Oh. Oke." Dita kembali menyusun alat-alat baking Ana di meja.
"Ya Tuhan. Sekarang Aphrodita." Kalau bukan karena sedang ditonton anak buahnya, Ares akan mengucek gemas kepala Dita dan menciumi seluruh wajah gadisnya untuk membuatnya sadar.
"Aaah. Baik, Mas."
Kepergian Dita membuat semua yang ada di dapur geleng-geleng kepala.
***
Melihat kekasihnya menjalani hidup tanpa gairah setelah kasus Safarina selesai diputus oleh pengadilan, Ares merasa harus mencari cara agar Dita kembali tersenyum. Minggu kemarin Ares mengajak semua karyawannya termasuk Dita untuk bersenang-senang. Ya, semacam staff day out. Karaoke, main di game center, dan ditutup dengan makan malam bersama. Diam-diam Ares merasakan kelegaan ketika Dita mulai tersenyum dan tertawa bersama teman-temannya, mencairkan ketegangan di wajahnya yang selalu muram. Di penghujung malam, Ares dan Dita bersepakat untuk mengumumkan hubungan mereka pada segenap staf. Kehebohan yang dibuat Sandy, Mimi, dan Ana sempat membuat Ares menyesal memberi tahu mereka, tapi saat Dita terlihat bahagia karena hubungannya dengan Ares diterima tanpa ada penghakiman yang selama ini dia takutkan, Ares pikir, keputusan go public ini tidak terlalu buruk.
Jika mereka go public di The Leisure Treasure Bakery, maka Ares juga mau mengenalkan Dita sebagai kekasihnya secara resmi kepada sahabat-sahabatnya. Di sinilah Ares dan Dita, berjalan menuju pintu masuk The Lounge Cafe, tempat Ares rutin bertemu dengan Mike, Indra, dan Tobi.
“Mas, gimana makeup-ku? Bajuku presentable, kan? Rambutku digerai aja nggak apa-apa, kan?”
“Kamu selalu terlihat luar biasa cantik, apalagi malam ini, Sayang. Seperti yang sudah-sudah.”
“Maaas. Kita mau ketemu teman-teman Mas, lho. Kalau aku nggak diterima, gimana?” Dita benar-benar khawatir. Sebab, cara Dita dan mereka pertama kali bertemu dulu juga bukan dalam keadaan yang layak. Dita hanya seorang supir pengganti saat itu. Sedangkan teman-teman Ares bukan orang-orang biasa.
“Sahabat-sahabatku bukan orang yang berpikiran picik.” Ares menggapai pinggang kekasihnya dan membawanya mendekat. Mereka berjalan pelan selambat siput. “Mereka akan mendukung siapa pun pilihanku. Aku yakin, setelah mereka bertemu kamu, mereka akan tahu mengapa aku jatuh cinta pada seorang Aphrodita Diana Saraswati.” Ares meraih tangan Dita dan mencium punggung tangan kecil itu mesra.