"Ares! Areees! Jawab Mama, Res."
Setelah mendengar suara seorang perempuan berteriak menyebut nama anaknya, bunyi amat berisik mengoyak gendang telinganya sekaligus menyayat jantungnya, membuat tubuh Widyawati membeku. Tak sadar tangannya gemetar hebat saat meremas telepon genggam. Pecah tangis sang ibunda, melolong sendirian di lantai kamar meneriakkan nama anaknya berkali-kali.
"Areees. Anak Mama. Ares!" panggil Widyawati histeris. Suara berisik tadi tergantikan oleh suara operator telepon seluler sejak beberapa detik yang lalu.
"Ibuk. Ibuk kenapa?"
Seorang perempuan muda datang tergopoh-gopoh dan berlutut di lantai. Wajahnya pucat, khawatir lebih mendominasi. Sebab, yang dipanggil 'Ibuk' telah meluruh di lantai, lemah, menangis, dan sangat sengsara.
"Yayuk. Bagaimana ini, Yuk? Bapak ditangkap. Aresku, Yuk."
Lagi-lagi Widyawati tak dapat membendung tangisnya. Yayuk, asisten pribadi Widyawati memberikan pelukan menenangkan. Yang ada, Widyawati menjadi-jadi menangis di bahu perempuan itu.
"Mas Ares kenapa, Buk?"
"Ares kecelakaan, Yuk."
Yayuk terkesiap. "Ya Tuhan!"
Tapi Yayuk tidak boleh ikut panik. Dengan kepala dingin dan tenang dia berpikir cepat, apa yang harus dilakukannya untuk keluarga yang sedang porak poranda ini. Yayuk terlalu mengetahui kereyotan keluarga Sasongko hingga ke lapisan kulit terdalam.
Setelah membawa Widyawati ke kursi dan menenangkannya, Yayuk sibuk bicara pada ponselnya mencari informasi keberadaan anak sulung Sasongko di seluruh rumah sakit di Jakarta.
***
Masih bergidik jiwanya ketika mengingat sebuah truk tronton yang mengangkut empat tiang beton super panjang dan besar lepas kendali lalu menabrak mobil SUV putih yang ditumpanginya. Sensasi itu membuat bulu romanya berdiri lagi. Tapi itu tidak penting sekarang. Yang penting adalah seseorang yang sedang bertaruh nyawa di kamar operasi.
"Ya Tuhan, selamatkan Mas Ares," bisik Dita sambil meremas rambut yang helaiannya mencuat di mana-mana. Bahkan masih ada serpihan material mobil Ares yang masih tersangkut di sana. Tapi Dita tidak peduli.
"Mas Ares, Dita nggak mau kehilangan Mas Ares. Mas Ares udah jadi sayangnya Dita sekarang. Cukup mama yang ninggalin Dita, jangan Mas Ares. Jadi, please, jangan tinggalin Dita," racaunya tak jelas. Air matanya menjadi-jadi merembes tak kunjung berhenti mengalir sejak tadi.
Tiba-tiba seorang petugas bermasker jalan terburu-buru keluar dari pintu Ruangan Operasi.
"Mbak, kenapa operasinya?" cegat Dita. Dita tahu di dalam ruangan itu hanya satu orang yang menjalani operasi, karena tertera di layar monitor Informasi Jadwal Operasi Hari Ini.
"Kami kekurangan darah, Mbak," jawab petugas itu sambil lalu dan berjalan cepat. Dokter atau perawat, Dita tidak tahu.
"Saya! Saya bisa donor, Mbak. Golongan darah saya sama dengan Mas Ares," buru Dita. Dita masih ingat golongan darah Ares saat mereka bertukar KTP. Dita tidak peduli dengan keadaannya. Padahal dia sendiri penuh luka.
Petugas berbaju scrub hijau itu berhenti. Matanya tampak tersenyum meski dari balik masker, seakan-akan berusaha menenangkannya. Dita tidak mau ditenangkan, Dita mau Ares selamat.