"Sejak kemunculan nama Pak Dadang di berita, toko kita mulai menunjukkan penurunan omzet, Mas. Saya nggak bilang menyalahkan kasus Pak Dadang. Hanya saja, semua terjadi di saat bersamaan. Di cabang pun demikian," jelas Sandy di ruangan dadakan Ares di lantai satu. Kakinya yang masih digips membuat mobilitas Ares amat terbatas. Pekerjaannya di safety bunker juga menurun drastis. Sandy bahkan memegang dapur sepenuhnya sejak dia kecelakaan hingga detik ini.
"Berapa persen turunnya?"
"Per hari ini 45 persen. Semakin turun dari kemarin yang hanya 25 persen. Kata Mimi, hate comment di med-sos kita juga semakin tinggi, berbanding terbalik dengan angka penjualan yang semakin turun. Saya jadi bingung, mesti diapakan roti dan kue yang tak terjual setiap hari. Karena terlalu banyak sisa, Mas."
Ares mendongak ke langit-langit, kemudian mengambil napas panjang dan menghembuskannya amat perlahan. Takut nggak berkah makan roti dari keluarga koruptor, begitu salah satu ujaran kebencian yang membuat trust masyarakat menurun drastis pada tokonya. Pelanggannya jadi tidak nyaman berbelanja di toko roti milik anggota keluarga tersangka koruptor.
Papa, tak cukupkah membuat keluarga kita hancur? Sekarang tokoku turut merasakan imbasnya.
"Terima kasih kalian masih bertahan dengan kondisi sulit The Leisure Treasure Bakery. Dari grafik laba rugi sudah terlihat ke mana arah toko ini akan berakhir. Bukan begitu, Irfan, Sandy?"
"Apa kita punya rencana cadangan, Mas?" tanya Irfan, si manajer cabang yang diam-diam menghela nafas panjang.
Tidak ada bisnis yang selalu untung. Kalau tidak ada resiko rugi, bukan bisnis namanya. Tapi, bagian ini yang paling Ares benci dalam berbisnis: menyampaikan kenyataan yang tidak mengenakkan.
"Saya sudah menyiapkan beberapa rencana untuk toko ini dan kalian. Saya tidak yakin rencana saya akan kalian sukai.”
***
Se-Indonesia tahu hubungan Ares dan Dadang. Ares bisa apa bila orang lain tidak mau membeli karyanya? The Leisure Treasure Bakery Ares ciptakan dengan prinsip agar orang lain dapat menikmati 'harta karun' yang lezat sambil bersantai, bukan makan dengan kebencian.
Kepalanya serasa mau pecah!
Kalau bisa badan dan pikirannya dibagi, Ares akan membaginya menjadi lima.
Yang pertama untuk Widyawati yang sakit semenjak Dadang ditahan di rumah tahanan KPK.
Yang kedua untuk Mita di Melbourne. Siapa lagi yang bisa menjaga adik satu-satunya kecuali dia sendiri? Ares tidak bisa berharap banyak pada keluarga besar papanya yang sedikit demi sedikit beringsut menjauhi keluarganya. Kasus Dadang telah merusak nama Sasongko, begitu kata mereka. Atau keluarga mamanya yang dekat dengan mereka hanya saat nama Sasongko dan Widyawati sedang berada di puncak popularitas, bukan berada di dasar jurang kehancuran.
Yang ketiga untuk Dadang, Papanya yang sekarang mendekam di rutan.
Yang keempat untuk tokonya. Ares terpaksa mengurangi produksi setiap hari. Pengurangan produksi berarti penurunan penghasilan. Bagaimana nasib karyawannya?
"Mas."
Ares mengangkat kepalanya yang terkulai di sandaran kursi dan senyumnya otomatis mengembang. Badan dan pikirannya yang terakhir akan dia bagi untuk seorang gadis yang baru saja masuk ke ruangannya dengan tersenyum.
"Aku udah ketok pintunya berkali-kali. Karena nggak ada respon, aku masuk aja. Aku ganggu Mas Ares?"
"What? No!" protes Ares. "Kehadiran kamu nggak akan pernah ganggu aku, Sayang."
Dita meringis malu. "Mas!"
Ares menyongsong kekasihnya, berjalan tertatih-tatih dengan kruk di tangan kanan sambil merentangkan tangan kiri. "I think I need a hug."
Dita tidak perlu berpikir dua kali untuk memeluk pria yang wajah tampannya terlihat lusuh dan banyak pikiran beberapa hari ini. Dengan konstan, Dita memberikan belaian menenangkan di punggung Ares, sesekali mengelus rambut ikal Ares yang halus di permukaan telapak tangannya.
Bagi Ares, pelukan Dita memberikan Ares sebuah kenyamanan dan kekuatan tak kasat mata, sebentuk energi untuk membuatnya tetap berpijak di bumi, seberapa pun keras hantaman badai yang mulai merengsek masuk ke safety bunker-nya.