Ruangan display sudah disulap menjadi ruang pesta kecil-kecilan. Meja-meja pelanggan disatukan sehingga membentuk meja panjang. Di atasnya terhampar berbagai jenis makanan berat dari restoran cepat saji hingga dessert sebagai penutup makan siang hari ini.
Semua kru The Leisure Treasure Bakery menyantap makanan-makanan lezat itu dengan hati bahagia campur sedih. Sebentar lagi kalian akan tahu mengapa.
"Bos, kalau nggak habis boleh bawa pulang, kan?" Sandy menaik-turunkan alisnya, ingin membuat suasana makan-makan yang tidak terlalu bersemangat ini menjadi sedikit ceria.
"Astaga, Sandy! Saya bukan bos kamu lagi. Bos kamu itu pemilik hotel itu sekarang. Dan ya, silakan kalian bawa pulang. Saya sengaja pesan banyak supaya nanti bisa kalian nikmati bersama keluarga di rumah."
Berkat surat rekomendasi seorang chef sekelas Ares, Sandy diterima di beberapa tempat sebelum toko ini benar-benar tutup dan dia memilih menjadi salah satu pastry chef di sebuah hotel bintang empat.
Inilah bentuk rencana yang Ares persiapkan untuk karyawannya. Memberikan jalan karir baru agar mereka tetap bekerja sambil mengembangkan diri di tempat baru, sebab, sejak seminggu yang lalu, anak kesayangannya, The Leisure Treasure Bakery resmi ditutup.
Senyum Sandy justru menghilang perlahan. "Jangan diperjelas, Bos."
Sejujurnya Sandy tidak rela keluar dari tempat ini. Di samping ilmu baking yang sangat berharga dari bosnya, Ares telah memberi Sandy keluarga kedua di toko ini.
"Bagaimana, An? Sudah dapat jawaban dari Margo Cakeology?"
"Sudah, Mas Ares." Dari senyum Ana, Ares tahu Ana sudah diterima Margo.
"Syukurlah. Margo teman saya. Kamu bisa bereksplorasi dan bereksperimen dengan Margo di sana. She is the best in this field."
Tapi senyum Ana juga cepat menghilang. Dia sangat menikmati bekerja di toko ini, apalagi saat ada pesanan kue pengantin. Itu pesanan spesial. Dia dan Ares akan bekerja sama menghias kue itu sesuai dengan keinginan customer hingga untuk request paling rumit sekalipun.
Arip melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah. Ares bangga bisa memberikan tempat untuk Arip menabung di tokonya.
"Aku masih nggak percaya hari ini hari terakhir kita ngumpul bareng, Mas," ungkap Ana.
Semua mantan anak buah Ares mengangguk pelan.
Ares malah terkekeh. "Mau sampai kapan kalian bekerja di sini terus? Kalian harus berkembang. The Leisure Treasure Bakery hanya tempat untuk memulai. Batu loncatan saja."
Mimi diam-diam menyeka air matanya. "Mimi bakal kangen kalian," ucap Mimi pelan.
Dita dan Ana merangkul lengan Mimi di kiri dan kanannya.
"Kak Mimi jangan sedih. Kan kita masih bisa hang out pas weekend," kata Dita.
"Iya, Mi. Lo jangan sedih dong. Gue ikutan sedih, nih," sambung Ana.
"Tapi Mimi kerja di The Lounge sampai Sabtu."
"Elah. Minggu masih ada, Mi," celetuk Sandy. Sedikit tawa akhirnya mewarnai makan siang sedih itu. "Gue bakal meluangkan waktu buat ngumpul kalau jadwal gue nggak bentrok."
Baik Ana, Dita, maupun Mimi menganggukkan kepala menyetujui Sandy.
"Mike orangnya fleksibel kok, Mi."
"Makasih udah rekomendasiin Mimi sama resto Pak Mike, Mas."
Yes, Mike si ahli barang branded dan sahabat blasteran Ares. Ares pun mengangguk. "Saya beri kamu rekomendasi ke Mike posisi akunting di The Lounge supaya keahlian kamu berkembang. Nggak hanya megang kasir. Uang yang akan kamu hitung lebih banyak. Jadi all out di sana ya, Mi."
"Baik, Mas. Mimi akan all out," seru Mimi berapi-api.