The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #46

44. Car Chitty Chatty

Sudah hampir setengah jam Ares di dalam. Katanya menemui Irfan—manajer toko The Leisure Treasure Bakery kedua. Yang bisa Dita lakukan hanya duduk manis di teras toko. Sebab, dia tidak diberi mandat apa-apa selain menunggu dengan sabar. 

Lalu untuk apa aku ikut?

Padahal, tadi dia sedang ditraktir kue buatan toko bosnya. Kapan lagi makan makanan mahal? Gratis pula. Sudahlah, daripada bengong, Dita putuskan mengecek saldo rekeningnya lewat m-Banking. Membaca jumlah digit tabungannya membuat Dita malah tertawa kering.

"Haaah, masih belum cukup untuk setor ke Mas Ares bulan ini," gumam Dita. Bahunya terkulai lemah.

"Kenapa? Mengeluh tidak akan mengubah apa pun," sindir suara familiar itu, tegas dan menusuk jiwa Dita dari belakang.

"Astaga!” Dita berdehem. “Sejak kapan Mas berdiri di situ?"

"Sejak kamu mendesah mengenai setoran bulan ini. Ayo kita pulang."

Dita berdecak sebal. Dasar nggak peka. Bisa nggak sih, nggak terlalu jujur? dumel Dita mengekori Ares ke mobil.

SUV putih Ares begitu wangi dengan parfum Ares yang terkurung di dalam interior mobil. Ditambah belaian AC di wajahnya di tengah jalanan ibu kota yang sedang memanas membuat Dita sempat melayang ke alam mimpi. Tapi Dita tidak mau tertidur di sebelah bosnya. Bisa berabe. Dia harus melakukan sesuatu. Misalnya, mengobrol? Minta maaf lagi? Main tebak-tebakan? Atau, menjahili bos di sebelahnya?

Tidak-tidak. Opsi pertama lebih bagus, pikir Dita.

"Mita apa kabarnya, Mas?"

"Dia sedang kuliah."

"Whoa. Di mana?"

"Melbourne." Dita mendengar nada bangga seorang kakak saat menjawab pertanyaannya.

"Wow. Mita keren," puji Dita sangat tulus. Mita memang sepintar itu. 

"Kamu nggak minat lanjutin S2?" Ares melirik sebentar. Lalu matanya kembali ke jalan.

"Boro-boro mikirin kuliah, nyambung hidup aja udah bikin ngap." Dita tertawa kering.

Jiwa Ares langsung tersentil dengan fakta yang keluar dari bibir Dita. Apalagi mengingat Dita tidak lagi tinggal di rumahnya yang lama.

"Kenapa kamu tinggal di kos-kosan?"

"Tanpa sepengetahuan saya, mama ngejual rumah peninggalan papa waktu kita masih menikah. Jadi saya terpaksa cari tempat tinggal lain."

Dita membuang wajahnya ke jendela, menatap nanar pemandangan mengabur di sisi kirinya. Ternyata, rasa kecewa itu masih ada. Rumah yang ditinggalinya seumur hidup lenyap begitu saja. Mengingat bagaimana cara rumah itu raib dan kondisi Dita yang terlunta-lunta tidak mempunyai tempat tinggal setelah bercerai, goresan itu masih menimbulkan nyeri yang membuat tidak nyaman dalam dadanya. Dia masih terluka. Dan luka itu terasa masih segar ketika menceritakannya kembali.

"Lalu mama kamu ...."

Dita menoleh pada sang supir. "Mama itu kayak angin. Dia ada di suatu tempat, tapi saya nggak bisa genggam.”

“Maksud kamu?”

Dita tergelak. “Mama menghilang tanpa kabar setelah jual rumah. Sekarang pun, Mama masih sulit dihubungi. Ketemu mama juga dua kali setelah kita nikah itu." Dita mengangkat bahunya ringan. "Hehe. Lucu, kan? Aneh memang, keluarga saya."

Lihat selengkapnya