Angka-angka merah bergerak turun di layar raksasa lobi PT Alam Daya Agung.
Sebagian jatuh perlahan. Sebagian lain meluncur tajam, seperti tidak menemukan dasar.
Karyawan yang melintasi layar itu berusaha tidak melihat terlalu lama. Ada yang mempercepat langkah. Ada yang pura-pura sibuk dengan telepon. Seorang petugas keamanan berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung, menatap lurus ke depan, seolah penurunan nilai perusahaan bukan urusannya.
Di bawah logo emas PT Alam Daya Agung, kode saham perusahaan berkedip.
ADA.
Merah.
Turun lagi.
Hari Sakti berdiri di depan pintu lift eksekutif ketika layar menunjukkan penurunan berikutnya. Jas abu-abunya masih rapi. Dasi hitamnya terikat sempurna. Hanya matanya yang menunjukkan bahwa ia sudah melihat angka itu sejak sebelum matahari terbit.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari Adnan Yudha.
Ruang rapat utama. Sekarang.
Hari membaca pesan itu sekali, lalu menyimpan ponselnya.
Pintu lift terbuka.
Ia masuk sendirian.
Di dinding lift, sebuah layar kecil menampilkan berita ekonomi pagi.
“...harga emas kembali terkoreksi setelah pasar merespons perlambatan ekonomi Asia dan proyeksi penurunan permintaan dari India serta Eropa...”
Hari menekan tombol lantai tiga puluh dua.
“...saham sejumlah perusahaan pertambangan mengalami tekanan dalam perdagangan pagi ini...”
Pintu lift menutup.
Suara pembawa berita masih terdengar ketika angka lantai mulai naik.
Dua belas.
Tujuh belas.
Dua puluh empat.
Hari memandang bayangannya sendiri pada permukaan logam pintu lift. Wajahnya terlihat tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang tahu bahwa dalam waktu kurang dari satu jam, mungkin akan ada ribuan orang yang kehilangan pekerjaan.
Lift berhenti.
Pintu terbuka menuju koridor panjang dengan dinding kaca. Dari ketinggian itu, Jakarta tampak seperti jaringan yang tidak pernah benar-benar tidur. Gedung-gedung tinggi berdiri dalam kabut tipis. Kendaraan bergerak di jalanan seperti aliran darah yang tersendat.
Ruang rapat utama berada di ujung koridor.
Hari membuka pintu tanpa mengetuk.
Adnan Yudha sudah berdiri di depan layar presentasi. Rambutnya tersisir rapi, tetapi kemeja putihnya tampak sedikit kusut di bagian lengan. Di meja panjang dari kayu hitam, dua orang lain telah menunggu.
Vikram Athara duduk di kursi kepala meja.
Usianya lima puluh lima tahun, tetapi punggungnya tetap tegak. Rambut peraknya disisir ke belakang. Ia tidak pernah perlu meninggikan suara untuk membuat ruangan diam.
Di sebelah kanannya duduk Ramy Agustino, Chief Marketing Officer PT Alam Daya Agung. Ramy tampak lebih gelisah daripada dua orang lainnya. Jarinya mengetuk meja dengan ritme pendek yang tidak teratur.
Hari mengambil tempat di seberang Ramy.
“Mulai,” kata Vikram.
Adnan menekan alat kendali di tangannya.
Grafik pertama muncul.
Garis kuning turun tajam.
“Harga emas internasional terkoreksi delapan koma dua persen dalam tiga bulan,” ujar Adnan. “Tekanan terbesar datang dari perlambatan sektor manufaktur Asia, penguatan mata uang tertentu, dan revisi permintaan dari India serta Eropa.”
Ramy menghentikan ketukan jarinya.
“Semua perusahaan tambang terkena,” katanya. “Bukan hanya kita.”
“Benar.” Adnan memunculkan grafik kedua. “Tapi tidak semua perusahaan punya struktur biaya seperti kita.”
Di layar, sederet angka memenuhi tabel.
Biaya eksplorasi.
Biaya perawatan.
Biaya keamanan.
Biaya transportasi.
Biaya tenaga kerja.
Angka terakhir diberi warna merah.
Hari melihatnya tanpa berkedip.
Adnan melanjutkan, “Kita sedang menjalankan dua proyek eksplorasi aktif, satu proyek pengembangan besar, dan mempertahankan operasi di Pasaman. Pendapatan menurun, tetapi biaya tetap berjalan.”
“Berapa lama?” tanya Vikram.
Adnan terdiam sesaat.
“Kalau harga emas bertahan di level ini dan kita tidak melakukan penyesuaian, arus kas operasional mulai tertekan serius dalam dua kuartal.”
Ramy menyandarkan punggung.
“Dua kuartal?”
“Bisa lebih cepat kalau pasar kehilangan kepercayaan.”
Adnan mengganti tampilan.
Kini layar memperlihatkan harga saham PT Alam Daya Agung selama enam bulan terakhir.
Garisnya tampak seperti tebing.
“Sejak awal kuartal, saham kita turun dua puluh satu persen.”
Hari melipat kedua tangannya di atas meja.
“Investor institusional?”
“Sebagian mengurangi posisi. Sebagian menunggu. Investor ritel mulai panik.”