Abiyasha tidak pernah memanggil seseorang ke ruangannya tanpa alasan.
Ia juga tidak pernah menulis kata sekarang kecuali ada masalah.
Ketika Adel, Nizar, dan Ignatius masuk, Human Resource Manager itu sedang berdiri menghadap jendela. Tangannya berada di saku celana. Di meja kerjanya tergeletak tiga map abu-abu tanpa nama.
“Duduk,” katanya.
Mereka duduk berjajar.
Adel di tengah.
Nizar di kiri.
Ignatius di kanan.
Abiyasha berbalik. Usianya mendekati akhir empat puluhan. Wajahnya tenang, tetapi garis di antara kedua alisnya terlihat lebih dalam pagi itu.
“Kalian sudah mendengar rumor.”
Bukan pertanyaan.
Tidak ada yang menjawab.
Abiyasha menarik kursi dan duduk.
“Mulai hari ini, tidak ada komentar kepada siapa pun. Tidak kepada teman. Tidak kepada keluarga. Tidak kepada grup percakapan. Tidak kepada mantan kekasih.”
Mata Nizar bergerak sekilas ke arah Adel.
Ignatius melihat lurus ke depan.
Adel berpura-pura tidak menyadarinya.
“Ada proses evaluasi organisasi,” lanjut Abiyasha. “Belum ada keputusan final. Tapi direksi sedang mempertimbangkan restrukturisasi.”
“Seberapa besar?” tanya Ignatius.
“Belum ditentukan.”
“Divisi mana?”
“Semua.”
Kata itu mengubah udara di ruangan.
Adel meletakkan gelas kopinya di lantai.
Nizar berhenti memainkan ujung map.
Abiyasha mendorong tiga map abu-abu ke depan.
“Kalian akan membantu saya.”
Adel membuka map miliknya.
Di dalamnya terdapat struktur organisasi perusahaan, daftar posisi, masa kerja, penilaian kinerja, kompensasi, serta catatan disiplin.
Jumlah nama di halaman pertama saja mencapai puluhan.
“Apa tepatnya yang harus kami lakukan?” tanyanya.
“Menilai kebutuhan posisi. Bukan menilai harga manusia.”
Nizar menatap daftar itu.
“Perbedaannya tipis saat hasilnya tetap pemecatan.”
Abiyasha memandangnya.
“Karena itu kalian dipilih.”
“Karena kami dingin?”
“Karena kalian belum cukup senior untuk merasa kebal dan belum cukup muda untuk menganggap semua masalah dapat diselesaikan dengan slogan.”
Nizar tersenyum kecil.
“Pujian yang unik.”
“Itu bukan pujian.”
Abiyasha membuka mapnya sendiri.
“Adel, kau menangani konsolidasi data. Pastikan setiap nama terhubung dengan posisi, biaya, dan unit kerja yang benar.”
Adel mengangguk.
“Nizar, kau memeriksa duplikasi fungsi dan pola akses sistem. Saya ingin tahu posisi mana yang masih aktif di atas kertas tetapi tidak lagi melakukan pekerjaan nyata.”
Nizar mengangkat alis.
“Pola akses sistem?”
“Log masuk, perangkat, aktivitas aplikasi internal. Semua yang sah untuk diperiksa.”
Kata sah diberi tekanan.
Nizar memahaminya.
Tidak meretas.
Belum.
“Ignas,” lanjut Abiyasha, “kau memeriksa catatan disiplin dan kepatuhan. Setiap pelanggaran yang belum ditindaklanjuti harus masuk.”
Ignatius menutup mapnya.
“Kapan laporan pertama?”
“Besok pagi.”
Adel menatap tumpukan data.
“Besok?”
“Kita tidak punya kemewahan waktu.”
Nizar bersandar.
“Siapa yang memimpin restrukturisasi?”
Abiyasha terdiam sesaat.
“Pak Hari.”
“COO?” tanya Adel.
“Untuk sementara, beliau juga akan menjalankan fungsi CHRO.”
Ignatius menatap Abiyasha.
“Kenapa bukan Anda?”
Pertanyaan itu terlalu langsung.
Abiyasha tidak terlihat tersinggung.
“Karena keputusan sebesar ini harus datang dari tingkat direksi.”
“Atau karena orang-orang akan lebih takut pada COO,” kata Nizar.
Abiyasha menutup mapnya.
“Takut kadang membantu orang mendengar.”
Rapat direksi dilanjutkan menjelang siang.
Kali ini, kepala divisi legal dan kepatuhan belum dipanggil. Hanya empat orang yang berada di ruangan: Vikram, Hari, Adnan, dan Ramy.